Kisah Udi, Petugas yang Berjalan 12 Km Demi Jalur Kereta Aman Dilalui
Udi Analisa berjalan sekitar 12 km setiap hari memeriksa rel dari Patukan ke Lempuyangan demi memastikan perjalanan kereta tetap aman.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X,s aat ditemui wartawan di Kantor Gubernur DIY, Kamis (21/1/2021). /Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjgja.com, JOGJA-Gubernur DIY Sri Sultan HB X berharap Kongres Aksara Jawa dapat menaikkan minat baca tulis aksara jawa di kalangan masyarakat. Sebab jika tidak dilestarikan dengan baik dapat berdampak pada kepunahan bahasa Jawa. Demikian dikatakan Sultan pada Kongres Aksara Jawa I yang digelar secara daring, Senin (22/3/2021).
Pernyataan Sultan soal kepunahan bahasa Jawa ini dikutip dari Barbara Grimes (2001) yang menengarai fenomena kepunahan bahasa daerah terjadi oleh sebab-sebab di antaranya penurunan drastis jumlah penutur aktif, ranah penggunaannya semakin berkurang, pengabaian bahasa ibu oleh penutur usia muda, usaha memelihara identitas etnik tanpa bahasa ibu, generasi terakhir tidak mahir berbahasa ibu, dan semakin punahnya dialek-dialek satu bahasa oleh keterancaman bahasa indo dan bahasa gaul.
“Kalau pun tidak punah sepenuhnya, karena masih adanya pemertahanan bahasa [langague maintenance], atau terjadi pergeseran bahasa [language shift] dan perubahan bahasa [language change] ke bahasa Nasional,” kata Sultan.
BACA JUGA: Perlukah Divaksin meski Pernah Positif Covid-19?
Sultan juga mengutip pernyataan Ibrahim (2008) menggunakan hipotesa sosiolinguistik menandai, bahwa semakin muda usia penutur yang tidak lagi mahir menggunakan bahasa ibu, maka semakin cepat mengalami kepunahannya.
“Jika bahasa daerah hanya digunakan oleh penutur berusia 25 tahun ke atas dan usia yang lebih muda tidak menggunakannya, jangan disesali jika 75 tahun ke depan atau tiga generasi, bahasa itu akan terancam punah. Dan seterusnya, dengan penghitungan umur satu generasi selama 25 tahun,” papar Sultan.
Lebih lanjut Raja Kraton Ngayogyakarta ini memaparkan berdasarkan data UNESCO Atlas of Worlds Languages menyebutkan ada 2.500 bahasa di dunia, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia, terancam punah. Dari jumlah itu, lebih 570 bahasa statusnya sangat terancam punah dan lebih 230 bahasa telah punah sejak 1950.
Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) menyebutkan, dari 718 bahasa daerah di Indonesia, 169 terancam punah karena jumlah penuturnya kurang dari 500 orang. Agar bisa bertahan, bahasa harus digunakan oleh minimal 10 ribu orang untuk memastikan transmisi antargenerasi.
Hingga saat ini, baru ada tujuh yang terdaftar di Unicode, antara lain aksara Jawa (Hânâcârâkâ) dan aksara Arab Pegon yang banyak terdapat dalam manuskrip, berupa Sêrat, Babad dan Kidung yang tersimpan di Museum Widya Budaya, Kraton. Dalam hal ini, PANDI telah bekerjasama dengan Kraton dan PBNU. Faktanya, kurang masih lima persen bahasa daerah di dunia bisa diakses secara online.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Udi Analisa berjalan sekitar 12 km setiap hari memeriksa rel dari Patukan ke Lempuyangan demi memastikan perjalanan kereta tetap aman.
Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,4% sepanjang 2026, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Danantara dan BP BUMN menargetkan groundbreaking 12 kawasan smart city pada Desember 2026. Walini, Batang, dan Medan menjadi lokasi prioritas.
BNPT dan Pemprov Sumbar memperkuat peran guru dalam mencegah intoleransi, radikalisme, dan kekerasan di lingkungan sekolah.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogja menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) untuk mendapatkan masukan masyarakat terkait penyelenggaraan layanan
DPR berencana membahas RUU Penyadapan pada Desember 2026 setelah RUU Perampasan Aset rampung. Regulasi ini untuk mengatur batas dan mekanisme penyadapan.