BMKG: MJO Picu Pertumbuhan Awan Hujan di DIY, Wilayah Utara Harus Waspada
MJO melintasi Pulau Jawa dan meningkatkan potensi awan hujan di DIY. BMKG mengingatkan warga waspada hujan sedang hingga lebat.
Perahu nelayan disandarkan dan diikat di pohon yang berada di pesisir Pantai Driini Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul Senin (24/7)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, BANTUL - Cuaca ekstrem yang masih mendera sejumlah wilayah termasuk Bantul, membuat para nelayan sulit melaut. Selama lebih dari sepekan, banyak nelayan Bantul meliburkan diri karena kondisi ombak yang tinggi.
Salah satu nelayan Bantul, Dardi Nugroho mengaku sudah sekitar 10 hari tak melaut. Tak sendirian, Dardi menyebut banyak nelayan yang juga memilih libur ketimbang memaksakan melaut di tengah kondisi cuaca yang buruk. "Banyak yang libur karena cuacanya enggak bersahabat, ombaknya juga enggak bersahabat. Sudah satu pekan sampai 10 hari kondisi seperti ini," tuturnya Rabu (14/4/2021).
Berdasarkan ramalan prakiraan cuaca yang ada, Dardi menyebut kondisi cuaca yang buruk ini masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan. "Ramalannya jelek terus ini. Cuma hari ini yang baik," ujarnya.
Dardi mencoba melaut pada Rabu (14/4/2021), namun ternayata ombak masih goyang dan tidak sepenuhnya baik seperti ramalan yang ada. Alih-alih bawa tangkapan ikan puluhan kilogram, Dardi justru pulang dengan tanpa ikan satu pun. "Kalau ombaknya bagus ada bawalnya. Tangkapan tadi aja kosong, enggak dapat ikan," ungkapnya.
Baca juga: ASN Nekat Mudik, Tambahan Penghasilan Bakal Dipotong
Cuaca buruk disebutkan Dardi masih akan berlangsung 10 hari ke depan. Jika benar demikian, maka nelayan Bantul absen melaut sekitar 20 hari. "Ombaknya rada goyang, enggak bagus. Prediksi cuaca buruk ini kalau saya lihat di internet masih sampai 10 hari lagi," tambahnya.
Kondisi cuaca yang kurang mendukung bagi nelayan ini membuat nelayan kembali melakukan berbagai pekerjaan sampingan yang ada. "Kalau nelayan asli Bantul banyak sampingannya, banyak yang bertani. Tapi kalau nelayan dari Cilacap ya tetap menganggur, paling benah-benahi jaring," tuturnya.
Dardi menduga cuaca ektrem yang terjadi sedikit banyak dikarenakan gempa beberapa waktu lalu dan tentunya siklon yang ada. "Gempa juga pengaruh, terus siklon itu juga pengaruh. Kalau nelayan kan perhitungannya pakai hitungan Jawa dan pranata mangsa. Kalau ini ke belakangnya nanti ombaknya banyak yang jelek, tangkapannya juga belum pasti," tandasnya.
Ketua DPC HNSI Bantul, Suyanto tak menampik jika banyak nelayan pantai selatan yang memilih libur karena cuaca yang sedang tidak baik untuk melaut. Situasi cuaca April ini bertolak belakang dengan akhir Maret lalu. Pada akhir Maret lalu tangkapan ikan para nelayan pantai selatan terhitung cukup baik. Pasalnya cuaca saat itu cukup mendukung dan bertepatan dengan masuknya periode tangkapan ikan bawal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
MJO melintasi Pulau Jawa dan meningkatkan potensi awan hujan di DIY. BMKG mengingatkan warga waspada hujan sedang hingga lebat.
Omzet IKM Kota Jogja mencapai Rp4.018 triliun dan menyerap 40.905 tenaga kerja. Pelaku usaha masih menghadapi kendala bahan baku, modal, dan pasar.
Wabup Kulon Progo Ambar Purwoko mendorong siswa Sekolah Rakyat di Lendah tekun belajar, percaya diri, dan berani menjadi pemimpin.
Konser Andrea Bocelli di Borobudur dan Jakarta tetap digelar pada 31 Oktober dan 3 November 2026 dengan pesan kemanusiaan.
Survei Indef terhadap 1.800 UMKM menunjukkan partisipasi dalam program MBG masih rendah, sementara 22% responden mengalami penurunan usaha.
DPRD Bantul mengubah aturan toko modern. Jarak minimal menjadi 1 km, produk UMKM wajib mendapat ruang, dan 50% pekerja harus warga lokal.