Lonjakan Pemudik Lebaran Terlihat di Bandara YIA
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Kegiatan Pembekalan Apoteker Agen of Change di Kulonprogo, Kamis (20/5/2021)./ Harian Jogja Hafit Yudi S.
Harianjogja.com, WATES--Sosialisasi penggunaan obat dan antibiotik kepada masyarakat pinggiran di wilayah Kulonprogo masih diperlukan. Pasalnya, pemahaman masyarakat terhadap penggunaan obat dan antibiotik masih tergolong rendah.
Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kulonprogo, Tri Lestari mengatakan dampak buruk bisa terjadi imbas minimnya pengetahuan soal penggunaan obat dan antibiotik. Terlebih, penggunaan obat tanpa ada rekomendasi dari dokter sebelumnya sudah dilakukan bertahun-tahun.
BACA JUGA : Antibiotik Tak Boleh Digunakan Sembarangan, Apalagi
"Ini merupakan salah satu masalah serius. Dikhawatirkan dapat berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan seseorang seperti efek samping dan sebagainya," kata Tri Lestari pada Kamis (20/5/2021).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kulonprogo, masyarakat yang belum begitu melek terkait dengan penggunaan obat maupun antiobiotik terdapat di wilayah pinggiran Bumi Binangun.
"Hal tersebut tentu tidak lepas dari kondisi geografis yang jauh dengan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit. Dan itu tidak hanya di Kulonprogo saja, banyak wilayah yang belum paham tentang penggunaan obat dan antiobiotik," kata Tri Lestari.
"Khususnya di wilayah pinggiran. Bahkan, kami ada temuan masyarakat yang menggunakan antibiotik selama 2-3 tahun tanpa resep. Itu mengkhawatirkan," sambung Tri Lestari.
BACA JUGA : Penggunaan Antibiotik yang Berlebihan Mengancam Manusia
Oleh karena itu, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kulonprogo menginisiasi dibentuknya Agent Of Change (Aoc) IAI Kulonprogo. Tujuannya, adalah untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat maupun antibiotik.
"Kami melantik sebanyak 23 peserta sebagai Agent of Change di Kantor Pemkab Kulonprogo pada Kamis (20/5). Para peserta merupakan apoteker yang bertugas di puskesmas, apotek dan fasilitas kesehatan di wilayah Kulonprogo," kata Tri Lestari.
"Diharapkan tidak ada lagi penggunaan obat secara bebas tanpa resep dokter. Adanya AOC ini nantinya bisa melakukan sosialisasi secara gencar kepada masyarakat, terlebih penggunaan obat pun bisa diawasi," sambung Tri Lestari.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kulonprogo, Jazil Ambar Was\'an mengatakan para Agent of Change yang sudah dikukuhkan mampu menjalankan tugasnya secara benar dan maksimal.
"Harapannya tidak ada lagi penyalahgunaan obat maupun antibiotik yang tidak sesuai dengan resep dokter. Kami di pemerintah kabupaten Kulonprogo sangat berharap agar masyarakat bisa diberikan pemahaman penggunaan obat oleh para Agent of Change yang telah dikukuhkan," kata Jazil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Rusia menyerahkan 528 jenazah tentara kepada Ukraina dalam proses repatriasi terbaru di tengah perang yang masih berlangsung.
Erupsi Gunung Semeru disertai awan panas guguran, kolom abu 1.000 meter, status tetap Level III Siaga.
Pakar Hukum Tata Negara Unej meminta BK DPRD Jember memberi sanksi tegas kepada legislator yang bermain gim saat rapat.
Tiket laga kandang terakhir PSIM Jogja vs Madura United di SSA Bantul habis terjual, 8.500 suporter siap padati stadion.
Sebanyak 11 pemain masuk nominasi IBL Sportsmanship Award 2026 berkat permainan bersih sepanjang musim reguler IBL.