Penggunaan Antibiotik yang Berlebihan Mengancam Manusia

19 November 2017 14:20 WIB Kusnul Isti Qomah Sleman Share :

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan membuat antibiotik tersebut menjadi tidak mempan

Harianjogja.com, SLEMAN-Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (FKH-UGM) aktif meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba (AMR). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan membuat antibiotik tersebut menjadi tidak mempan.

Ajakan ini dikemas dalam seminar nasional bertajuk Peningkatan Pemahaman tentang Resistensi Antimikroba (AMR), pada Sabtu (18/11/17). Ini juga merupakan rangkaian acara dalam Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia (World Antibiotic Awareness Week) yang berlangsung 13-19 November 2017 yang dilakukan tiga badan dunia, yaitu Food and Agriculture Organization (FAO), World Health Organization (WHO), dan OIE (World Organisation for Animal Health).

Rangkaian kegiatan dimulai dari seminar nasional terkait AMR pada semua universitas di Indonesia yang memiliki fakultas maupun program Studi Kedokteraan Hewan, yang salah satu di antaranya adalah UGM. Antimikroba memang dibutuhkan untuk mengobati penyakit, namun penggunaan antimikroba yang tidak bijak, misalnya untuk mencegah penyakit dan memacu pertumbuhan (growth promoter) di peternakan akan mengakibatkan kasus AMR.

"Pemakaian antimikroba secara berlebihan menumpulkan efektifitasnya, dan kita harus mengurangi pemakaian yang tidak tepat tersebut di dalam sistem pangan," jelas José Graziano da Silva, Direktur Jenderal FAO dalam rilis yang diterima, Sabtu (18/11/2017).

Purnamawati Sujud Pudjiarto, Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli mengatakan, pada ternak, antibiotik dipakai agar ternak tidak terkena penyakit bahkan ada yang dipakai untuk pemacu pertumbuhan hewan guna menaikkan produksi. Padahal, ternak tidak perlu antibiotik.

"Penggunaan yang berlebihan mengakibatkan tekanan yang memicu resistensi. Akhirnya akan membahayakan bagi manusia. Terutama karena telur dan daging dikonsumsi manusia," ujar dia.

Ia mengatakan, pada manusia, antibiotik hanya boleh digunakan untuk operasi besar berisiko seperti jantung dan paru-paru. “Di Indonesia, orang luka karena jatuh, sunat, batuk, pilek, demam, atau melahirkan saja diberi antibiotik. Ini tandanya antibiotik di Indonesia masih dipakai untuk pencegahan. Ini bisa membuat antibiotik menjadi resisten”, ujarnya.