Antibiotik Tak Boleh Digunakan Sembarangan, Apalagi Diberikan ke Tetangga

Komunitas Jagareksa Antibiotik menggelar aksi damai dan sosialisasi anti mikroba di Titik Nol Kilometer Jogja dalam rangka World Antimicrobial Awareness Week 2020, Rabu (18/11/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
19 November 2020 09:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter dan konsumsi tidak tepat dosis sesuai anjuran dapat berdampak buruk. Resistensi bakteri menjadi hal yang paling dikhawatirkan karena kekuatan antibiotik yang tidak mempan lagi.

Apoteker yang tergabung dalam komunitas Jagareksa Antibiotik menggelar aksi sosialisasi di Titik Nol Kilometer Jogja dalam rangka memperingati Word Antimicrobial Awareness Week (WAAW) 2020. Penggagas Jagareksa Antibiotik, Sukir Satrija Djati menjelaskan aksi yang dilakukan untuk menyambut seruan WHO dalam rangka waaw 2020.

"Kenapa harus dilakukan, antibiotik itu pusaka umat manusia itu adalah sekumpulan obat-obatan untuk menyembuhkan infeksi karena bakteri, virus, jamur maupun protozoa," terangnya pada Rabu (18/11/2020).

Baca juga: PMI Wajibkan Pendonor Darah Cuci Tangan

Kendati Sukir menyebutnya ampuh layaknya pusaka, sayangnya obat-obat ini semakin kesini atau semakin hari demi hari khasiatnya mulai menurun dan berkurang karena digunakan dengan tidak benar. "Sehingga kami dari komunitas Jagareksa Antibiotik, menjaga dan memelihara berkah anti mikroba untuk anak cucu kita dari menjaga dan reksa itu tadi. Oleh karena itu kita mengajak masyarakat Jogja yang menjadi barometer indonesia harapannya masyarakat bisa menggunakan anti mikroba dengan baik," jelasnya.

Sukir memberi contoh, pembelian antibiotik harus menggunakan resep dokter, namun terkadang masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter. "Itu perilaku yang keliru. Kemudian kalau menggunakan sehari tiga kali itu bukan makan pagi makan siang makan sore itu seharusnya kalau sehari tiga kali ada 24 jam dibagi tiga atau jadi minumnya tiap 8 jam sekali," ujarnya.

Baca juga: Perekaman, Disdukcapil Gunungkidul Akan Jemput Bola ke Rumah Warga

"Harapannya pesan-pesan yang kami sampaikan, kami bawakan, bagian dari tanggung jawab generasi ini untuk merawat anti mikroba sehingga kedepannya anak cucu kita bisa memperoleh manfaatnya. Karena dikhawatirkan resistensi atau manfaatnya sudah habis, anak cucu kita besok enggak punya mikroba," ungkap Sukir.

Dia juga berharap masyarakat sadar akan bahaya resistensi obat anti mikroba. Cara agar menghindari resistensi adalah dengan menggunakan sebaik-baiknya.

"Pesannya satu kalau itu obat keras harus menggunakan resep dokter, tidak ada lagi istilah beli tanpa resep, minta ke tetangga atau membagikan ke tetangga. Kalau minum harusnya sampai habis, misalnya sakit dapat resep dokter terus dua tiga hari enakan padahal obatnya untuk lima hari tetap harus dihabiskan. Terakhir obatnya jangan dibagikan ke tetangga yang sakit serupa terus dikasih obat yang sama, jadi kita mengajak perilaku yang bener," pungkasnya.

Salah satu apoteker yang tergabung dalam Jagareksa Antibiotik, Wedhowati mengaku terlibat dalam aksi ini karena agar penggunaan obat anti mikroba sesuai dengan terapinya, jadi tidak asal saja. Menurutnya kebanyakan orang awam berpresepsi antibiotik digunakan untuk mencegah penyakit. Padahal anti mikroba bukan digunakan untuk mencegah tetapi digunakan kalau ada infeksi bakteri.

Tak jarang saat bertugas Wedhowati menemukan pembeli antibiotik tanpa resep dokter. "Kita selalu mengedukasi-nya dengan cara pelan pelan, nanti kita jelaskan secara pelan pelan. Harapannya masyarakat lebih sadar anti mikroba itu tidak digunakan untuk mencegah penyakit tetapi untuk pengobatan kalau ada infeksi bakteri yang ditunjukkan dengan hasil laboratorium," tandasnya.