Jogja Tuan Rumah Kongres HIMPSI 2026, Ini Agendanya
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Pemantapan Nilai Nilai Pancasila Bagi Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan YME yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Jogja belum lama ini./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Para penghayat kepercayaan di Indonesia mengaku Pancasila belum menjadi rumah bersama yang mampu menaungi berbagai macam lapisan masyarakat. Sebagian pihak masih mengedepankan kepentingan suku, agama dan kelompok masing-masing.
Budayawan Paguyuban Sapto Darma, Naen Suryono, mengatakan diakomodasinya hak para penghayat kepercayaan melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan Undang-Undang Administrasi Kependudukan pada November 2017 lalu adalah salah satu bentuk implementasi dari Pancasila. Namun dia mengakui masih ada beberapa orang yang melihat penghayat kepercayaan dengan sebelah mata.
"Sehingga ketika penghayat mengurus hak-hak sipil mereka tidak melayani dengan hati yang tulus," kata dia dalam acara bertajuk Pemantapan Nilai Nilai Pancasila Bagi Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan YME yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Jogja belum lama ini.
Naen berharap agar Pancasila menjadi rumah bersama bagi semua pihak dan lapisan masyarakat. Pihaknya juga mengapresiasi langkah Kesbangpol dan aparat terkait untuk mengajak paguyubannya untuk bersama memperingati Hari Lahir Pancasila.
Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM, Diasma Sandi Swandaru mengatakan, afirmasi dari pemerintah penting untuk melibatkan para penghayat kepercayaan dalam setiap kebijakan. Apalagi, pelibatan itu merupakan salah satu bentuk implementasi dari sila pertama. "Itu hak dasar dari masyarakat. Negara harus hadir menyapa mereka. Setiap masyarakat Indonesia juga mesti mendapat perlindungan yang sama," ungkap dia.
Diasma menekankan, penghayat kepercayaan sebagai minoritas mesti mampu ditangkap oleh pemerintah. "Memang masih ada kesenjangan pemahaman antara putusan MK itu dengan implementasi di pemerintah daerah. Makanya perlu ruang yang baik dan hak yang sama dengan dengan warga lainnya,” ujar dia,
Kepala Kesbangpol Budi Santosa mengatakan, kegiatan tersebut sengaja ditujukan untuk seluruh lapisan kepercayaan, mulai dari penghayat kepercayaan, tokoh masyarakat, partai politik, anak-anak dan lain sebagainya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan wujud nasionalisme untuk seluruh lapisan masyarakat. Ada 15 peserta dari kelompok penghayat kepercayaan yang ada di DIY ikut serta dalam kegiatan itu.
"Harapan kami, nasionalisme, Pancasila, kebinekaan ini tetap terus tumbuh berkembang di masyarakat Jogja," kata Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
AQUA resmi bubar setelah 30 tahun berkarier, menutup era musik pop dunia dengan warisan lagu “Barbie Girl”.
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Panduan membaca hasil TKA Kemendikdasmen agar peserta didik memahami makna skor dan kategori penilaian akademik.
Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul kembali menggelar kegiatan Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas.
Harga LPG non-subsidi di Kulonprogo naik sekitar Rp10 ribu per tabung, penjualan mulai menurun di sejumlah pangkalan.