Filosofi Sepeda Bamsut Menggerakkan Digitalisasi Kulonprogo
Diskominfo Kulonprogo kini dipimpin oleh Bambang Sutrisno yang memiliki reputasi selama 30 tahun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bamsut sapaan akrabnya memi
Suasana pembacaan macapat yang diselenggarakan oleh Disbud DIY di Pendopo Cakrajayan, Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul, Jumat (18/6) malam./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menggelar macapatan rutin di pendopo Cakrajayan, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Jumat (18/6/2021) malam. Dalam kesempatan itu, Kidung Wahyu Talang Kencono yang disadur oleh Mas Bekel Dwijasetyoprasojo dari puisi berjudul Kidung Wahyu Talang Kencana gubahan Akhmad Fikri AF ditampilkan.
Filolog Disbud DIY, Setya Amrih Prasaja mengatakan, gelaran macapat ini bertujuan untuk menggali seni tradisi tutur atau lisan masyarakat Jawa. Macapat yang ditampilkan dengan syair dan tembang ini disebut dia menjadi salah satu upaya untuk memunculkan kembali cerita-cerita rakyat di masa lalu.
Amrih menjelaskan, macapat yang ditampilkan pada kesempatan itu sangat lekat dengan sebuah cerita rakyat yang konon kerap diketahui oleh masyarakat Srimulyo sebagai sebuah mitos. Secara harafiah, Talang Kencono bisa diartikan sebagai jalan emas. Emas yang dimaksud adalah terkait dengan sumber mata air yang sangat berguna untuk kelangsungan hidup manusia.
"Talang itu kan jalan dan kencono itu emas. Emas lebih mengarah kepada sesuatu yang sangat berharga bagi manusia yakni air. Jadi dalam macapat itu diceritakan bahwa mitologi Talang Kencono itu berawal dari Nglanggeran yang di dalamnya ada sumber air dan air itu mengalir ke berbagai tempat yang bisa digunakan oleh masyarakat sekitar," jelasnya.
Secara filosofis, nilai yang terkandung dalam macapat itu adalah mengajak masyarakat untuk menjaga sumber air itu. Menjaga kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan menjadi kewajiban jika tidak ingin sumber air yang menjadi kebutuhan penting manusia itu lenyap tak bersisa.
"Karena kerusakan vegetasi tanaman juga bakal berimbas pada kondisi air di sekitarnya," ucapnya.
Akhmad Fikri yang hadir dalam kesempatan itu mengungkapkan, monografi Talang Kencono itu banyak diketahui oleh para tetua di desa setempat. Dia mewawancarai sejumlah orang dan menemui banyak pihak dalam proses menggubah monografi tersebut.
"Kita berharap agar kearifan lokal seperti cerita lisan ini tidak hilang. Jika kita memelihara ini akan sangat banyak manfaatnya untuk warisan dari generasi ke generasi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Diskominfo Kulonprogo kini dipimpin oleh Bambang Sutrisno yang memiliki reputasi selama 30 tahun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bamsut sapaan akrabnya memi
Pemkot Jogja menyiapkan program MALIKA setelah 31 dispensasi nikah diajukan pada 2024 untuk mendampingi keluarga muda dan menekan berbagai risiko.
Bank Jateng tidak hanya berperan sebagai lembaga penghimpun dan penyalur dana, tetapi juga sebagai Bank Pembangunan Daerah
PAN menilai usulan Pilkada tanpa wakil kepala daerah layak dikaji. Evaluasi sistem dinilai penting untuk memperkuat demokrasi dan pemerintahan daerah.
Investasi enam perusahaan tekstil hingga Agustus 2026 diproyeksikan membuka 9.000–9.800 lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan industri nasional.
BBWSSO menormalisasi Sungai Serang di Kulonprogo sepanjang Agustus 2026 untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga pasokan air irigasi.