Polisi Bongkar Perakitan Senjata Api Ilegal di Turi Sleman
Polresta Sleman mengungkap dugaan perakitan senjata api ilegal di Turi dan mengamankan dua tersangka serta sejumlah senjata dan amunisi.
Para komika saat tampil melawak secara bersama-sama dalam sesi penutupan Stand Up Hutan di Panggung Sekolah Hutan, kawasan Hutan Pinus Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul, Minggu (25/11/2018)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, BANTUL - Upaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Bantul menggelar kompetisi dongeng dan Stand Up Comedy Bahasa Jawa pada 2021 ini. Kedua kegiatan tersebut diharapkan mampu membantu mempertahankan kebahasaan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Bantul, Nugroho Eko Setyanto menjelaskan kompetisi dongeng diikuti oleh guru TK dan SD sederajat se-Kabupaten Bantul. Sementara kompetisi Stand Up Comedy Bahasa Jawa terbuka untuk masyarakat umum berbagai kalangan.
"Ini kan kita ada yang namanya kegiatan tentang kebangsaan, di antaranya kegiatan tentang kebahasaan. Bahasa itu merupakan salah satu objek kebudayaan yang harus kita garap," ujarnya pada Selasa (31/8/2021).
BACA JUGA : Wow, Pendongeng Ini Kuasai Puluhan Suara Tak Lazim
"Dalam rangka melaksanakan itu, kita mengambil salah satu kegiatannya lomba dongeng dan Standup Comedy Jawa. Itu karena saat ini di era globalisasi untuk tetap bagaimana dongeng itu bisa eksis," tambahnya.
Menurut Nugroho, dongeng tidak sekedar bagaimana orang tua atau siapa pun yang mendongeng kepada anak, tidak sekedar bercerita. "Tetapi di situ banyak hal yang bisa disampaikan, salah satunya bisa membentuk karakter anak lewat budaya kita," paparnya.
"Dongeng itu kalau disampaikan orang tua kepada anak, itu salah satunya bisa mempererat rasa emosional antara anak dan orang tua. Dari dongeng itu kita juga berharap anak mengetahui cetita-cerita lokal yang ada di sekitar kita. Anak bisa menganalisis menurut umurnya, tentang sebab akibat dari dongeng yang diceritakan," tandasnya
Di sisi lain, Nugroho menjelaskan bahwa turut digelarnya Stand Up Comedy Bahasa Jawa, dikarenakan bahasa Jawa merupakan bahasa yanh digunakan sehari-hari masyarakat Bantul. Penyampaian dengan cara jenaka diharapkan dapat membawa pesan-pesan lebih mengena.
BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Bahasa Jawa Terancam Punah
"Dengan dagelan-dagelan ringan, pesan-pesan yang ingin kita sampaikan biasanya lebih mengena daripada sosialisasi yang sifatnya formil," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polresta Sleman mengungkap dugaan perakitan senjata api ilegal di Turi dan mengamankan dua tersangka serta sejumlah senjata dan amunisi.
Pemkab Bantul mengupayakan bedah rumah untuk Waryanah, 65, yang 13 tahun merawat cucunya penyandang disabilitas seorang diri.
KA Pandawa Jogja-Semarang beroperasi 1 Desember 2026. Simak jadwal keberangkatan, stasiun pemberhentian, dan harga tiketnya.
DPUPKP Sleman menargetkan pemeliharaan 450 km jalan pada 2026 untuk mengantisipasi kerusakan dan genangan saat musim hujan.
KPK memanggil Plt Bupati Klaten Mahanni Yulindha Pratiwi sebagai saksi kasus dugaan korupsi yang menjerat Hamenang Wajar Ismoyo.
Pria 35 tahun asal Gunungkidul tewas tertemper kereta pengangkut BBM di jalur KA Gamping, Sleman, Kamis dini hari.