Pembahasan Raperda Gunungkidul Dikebut, 3 Draf Segera Dibahas
DPRD Gunungkidul mengebut pembahasan Propemperda 2026. Tiga raperda baru siap dibahas, termasuk KTR dan Ripparda 2026-2035.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menjadi pembicara dalam sekolah lapang cuaca nelayan (SLCN) yang berlangsung di kawasan Pantai Sadeng, Kapanewon Girisubo. Selasa (21/9/2021)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sedikitnya 50 nelayan di Pantai Sadeng, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, mengikuti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) di Pelabuhan Sadeng, Selasa (21/9/2021). Pelatihan ini diharapkan memberikan manfaat pada saat beraktivitas di laut.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan program sekolah lapang bagi nelayan merupakan yang pertama kali. Selama ini program lebih banyak menyasar ke kelompok petani. “Kali ini sekolah iklim diberikan kepada para nelayan,” kata Dwikorita.
BACA JUGA: Warga Kampung Mendungan Jogja Ubah Lahan Tak Terawat Menjadi Pertanian Produktif
Menurut dia, para nelayan membutuhkan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang iklim. Lokasi mencari ikan di perairan Laut Selatan memiliki gelombang yang tinggi sehingga dapat membahayakan keselamatan para nelayan. “Jadi kami berikan pelatihan dan pengetahuan tentang iklim untuk keamanan nelayan pada saat beraktivitas di laut,” katanya.
Menurut dia, pengetahuan iklim tidak hanya untuk keamanan tetapi juga sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil tangkapan. BMKG sudah membuat aplikasi tentang pemetaan zona-zona tangkapan ikan di laut yang bisa dimanfaatkan para nelayan. “Jadi manfaatnya sangat banyak bagi para nelayan,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Jogja, Reni Kraningtyas. Dia mengatakan ada tiga materi pokok yang disampaikan dalam SLCN. Materi-materi ini berisi tentang cara membaca informasi tentang iklim, pengenalan alat observasi, serta pemahaman informasi cuaca dan iklim kemaritiman.
“Kegiatan SLCN kami menggunakan metode belajar dengan langsung mempraktikan secara langsung. Metode ini bagus karena para nelayan bisa langsung mencoanya secara langsung apa yang diajarkan,” katanya.
BACA JUGA: Dulu Susah Sinyal, Sekarang Kampung Ngentak Mangir Jadi Kampung Internet
Reni juga memastikan pelaksanaan kegiatan ini juga mematuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. “Tetap dengan protokol karena penting demi kesehatan bersama dan kami bersyukur semua berjalan dengan lancar,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta menyambut baik program sekolah lapang iklim yang diberikan kepada para nelayan di Sadeng. Ia berharap pengetahuan yang didapatkan bisa menjadi bekal untuk meningkatkan hasil produktivitas di bidang kelautan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mengebut pembahasan Propemperda 2026. Tiga raperda baru siap dibahas, termasuk KTR dan Ripparda 2026-2035.
Pemkab Kulonprogo dan BOB mengawal kelanjutan Jalan Plono-Nglinggo. Dari 3,47 km, masih tersisa 2,47 km yang belum terbangun.
Lomba Mewarnai dan Menggambar Wayang Jadi Cara Disbud DIY Kenalkan Warisan Budaya kepada Anak
Kuota LPG 3 kg 2026 diproyeksi jebol. Kementerian ESDM memperkirakan konsumsi mencapai 8,67 juta ton atau 108,46% dari kuota.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mendorong pelajar Sekolah Rakyat untuk membangun kebiasaan menabung sekaligus meningkatkan literasi keuangan
Sleman memperbaiki 32 saluran irigasi dengan dukungan APBN untuk menjaga kebutuhan air pertanian saat puncak musim kemarau.