Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Warga Padukuhan Krandon, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak menghadiri Kenduri Rebo Wekasan, Selasa (5/10/2021) malam./Istimewa
Harianjogja.com, SLEMAN—Di serambi Masjid Miftahul Jannah Padukuhan Krandon, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, puluhan warga lintas strata, usia dan gender berkumpul menggelar upacara tradisi Kenduri Rebo Wekasan, Selasa (5/10/2021) malam.
Dengan formasi duduk melingkar beralas tikar dan karpet, warga dengan khidmat mengikuti prosesi kenduri. Tradisi tersebut sudah berjalan sejak lama, bahkan sejak sebelum masjid setempat berdiri tahun 1942. Sebelum berdirinya masjid, kenduri dilaksanakan di langgar atau musala kecil.
Ketua Desa Mandiri Budaya Wedomartani, Mujiburokhman, menuturkan sejarah singkat Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan tersebut. Dikisahkan oleh seorang Ulama ahli Khasaf, yakni seorang ulama yang diberi kelebihan mengetahui hal-hal ghaib.
Setiap Rabu pada akhir Bulan Safar, menurut Mujiburokhman, Allah menurunkan 320.000 jenis bencana dan untuk menolak bencana tersebut, manusia perlu melaksanakan salat sunat empat rakaat dan dengan bacaan serta doa tertentu. Di samping itu dianjurkan pula untuk banyak bersedekah, karena dengan sedekah diyakini dapat menjauhkan dari bencana.
"Sementara arti serta makna budaya dalam upacara Kenduri Rebo Wekasan atau Pungkasan adalah sebagai media masyarakat untuk bertemu, bergotong royong dengan saling mengasihi dan melaksanakan doa bersama," ujarnya.
Dengan terus mempertahankan dan melestarikan tradisi Rebo Wekasan, diharapkan setiap insan untuk terus saling mengasihi dan membiasakan melakukan doa secara bersama atau berjamaah, sehingga akan lebih memudahkan terkabulnya hajat dan terhindarnya dari bencana.
Dalam gelaran tradisi Kenduri Rebo Wekasan tersebut, tersaji beragam makanan serta kudapan khas masyarakat lokal, antara lain nasi dengan kelengkapan lauk-pauknya, jajanan pasar dan beraneka buah-buahan. Yang khas dari kenduri ini adalah membagikan uang Rp2.000 - Rp5.000 untuk anak-anak yang turut hadir dalam kenduri tersebut.
Menurutnya, menghidupkan kembali tradisi leluhur di tengah hiruknya interaksi digital menjadi tantangan tersendiri bagi warga desa. Untuk itu dibutuhkan peran para pihak untuk terus merawat tradisi guna mencerdaskan generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Ruang digital DIY dinilai rentan hoaks, radikalisme, dan penipuan online. Literasi digital masyarakat masih tertinggal dari akses teknologi.
Jadwal KA Bandara YIA menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dan sebaliknya pada 19 Mei 2026, lengkap dari pagi hingga malam hari.
Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional.
Jadwal SIM keliling Gunungkidul 19 Mei 2026 di Wiladeg Karangmojo dan titik layanan lain untuk perpanjangan SIM A dan C.
Cuaca Jogja hari ini diprakirakan hujan ringan di Sleman dan Kota Jogja, sedangkan Bantul dan Gunungkidul berpotensi udara kabur.