Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api di Bromo
Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan operasi terpadu untuk mengendalikan kebakaran hutan yang masih terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semer
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X,s aat ditemui wartawan di Kantor Gubernur DIY, Kamis (21/1/2021). /Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA--Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta pemerintah kabupaten dan kota khususnya Sleman agar pembangunan perumahan berorientasi vertikal untuk menghemat lahan terbuka hijau. Permintaan tersebut menanggapi alih fungsi lahan yang masif sehingga berimbas pada perubahan cuaca di DIY yang semakin panas.
Sultan mengaku tidak bisa melarang orang luar untuk tinggal di DIY dan membangun rumah. Hal yang bisa dilakukan adalah membatasi pembangunan rumah lebih ke arah vertikal ketimbang horizontal yang bisa memakan banyak lahan.
BACA JUGA : Tiap Tahun 50 Hektare Sawah di Sleman Lenyap
“Kalau saya lebih cenderung bagamana Sleman itu membatasi, dalam arti membatasi bukan orang tidak boleh tinggal di Sleman tapi sudah harus membangun [dengan] tidak boleh melebar dalam arti tanah yang luas tapi naik [rumah susun]. Sehingga tanah itu enggak perlu luas [hemat lahan] tapi naik [bersusun],” kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Selasa (12/10/2021).
Pembangunan rumah juga diatur berapa persen untuk bangunan dan berapa persen untuk halaman terbuka. Dengan demikian akan banyak ruang terbuka hijau privat maupun publik. “Larinya ke situ, jadi sudah waktunya kalau enggak nanti pengertian rumah perlu tanah yang luas kan berbeda dengan tanah izin bertingkat sehingga engga perlu tanah itu luas,” ucap Sultan.
BACA JUGA : Banyaknya Kampus di Sleman Picu Tingginya Alih Fungsi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan operasi terpadu untuk mengendalikan kebakaran hutan yang masih terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semer
Prabowo menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Listyo Sigit dan Dedi Prasetyo pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Inflasi Gunungkidul September 2026 mencapai 0,24%. Beras dan cabai rawit menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi.
Normalisasi Jalan Selokan Mataram Sleman dilanjutkan. Sebanyak 11 bidang lahan akan dibebaskan pada 2027 untuk pelebaran jalan.
Kualitas tidur berperan penting menjaga kesehatan otak. Kurang tidur dapat memengaruhi memori, konsentrasi hingga fungsi kognitif.
Perkumpulan Politeknik Swasta Indonesia (PELITA) akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V pada 14–17 Oktober 2026 di Makassar