Hadiri KTT Asean, Prabowo Tegaskan Pentingnya Persatuan Asean
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN yang digelar di Kuala Lumpu
Ilustrasi petani cabai-Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, BANTUL-Sejumlah petani cabai di lahan pasir perisir pantai selatan Bantul mengaku merugi karena adanya serangan hama berupa lalat buah dan jamur atau pathek. Kondisi tersebut dikarenakan hujan yang terus mengguyur wilayah Bantul.
Seorang petani di lahan pasir, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Bantul, Juwari mengatakan setiap musim penghujan kerap muncul hama berupa lalat buah yang menyebabkan cabai cepat membusuk dan tidak laku dijual.
“Selain itu datangnya musim hujan juga menyebabkan munculnya jamur atau orang lokal menyebut pathek yang menyebabkan buah cabai cepat layu dan mengering yang tidak laku dijual,” kata Juwari, Rabu (17/11/2021).
Menurut Juwari, sebelum muncul musim penghujan, ia sudah panen cabai empat kali dan hasilnya cukup menggembirakan dengan harga lelang di tingkat petani mencapai Rp20.000 per kilogramnya. Namun saat panen kelima dan ketujuh harga cabai turun hingga Rp15.000-18.000 per kilogram.
BACA JUGA: Gegara Menunggak Pajak, Aset Senilai Rp5 Miliar Milik Warga Gunungkidul Disita
Kondisi tersebut dikarenakan kualitas cabai juga menurun karena kelebihan air sehingga tidak sebagus saat musim kemarau. Ia menyebut saat saat panen cabai 100 kilogram atau 200 kilogram dipastikan 20 kilogramnya busuk dan layu sehingga tidak laku dijual akibat terserang hama lalat buah dan pathek.
Kondisi yang sama juga dialami petani lahan pasir lainnya, Sancoko. Ia mengaku kualitas cabai yang menurun membuat pedagang tidak bisa menjual cabai hingga lintas pulau karena cabai hasil panen saat musim hujan tidak bisa bertahan lama. “Saat ini para pedagang hanya memasok cabai di wilayah DIY dan Jawa Tengah, tidak berani sampai Sumatera,” ucapnya.
Ia berujar hujan yang terus menerus mengguyur lahan pertanian juga membuat pohon cabai cepat layu dan mati karena kelebihan air. “Beberapa lokasi sawah di Kalurahan Srigading yang ditanami cabai saat ini banyak yang layu karena terlalu banyak airnya,” kata Sancoko.
Sekretaris Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul, Joko Waluyo mengatakan intensitas hujan yang tinggi selama beberapa waktu terakhir ini memang mempengaruhi terhadap hasil pertanian terutama cabai. Produksi cabai dipastikan berkurang karena terserang hama dan kelebihan pasokan air.
Solusinya, kata dia, petani diminta untuk membersihkan saluran irigasi agar saluran air lancar sehingga air tidak menggenangi lahan pertanian. Joko juga meminta petani untuk waspada karena musim hujan masih akan terjadi sampai beberapa hari ke depan.
Selain itu, mantan Kepala Bidang Kesehatan Hewan dinas yang sama ini mengatakan Pemkab Bantul saat ini mulai mencoba mengembangkan cabai di luar musim atau off season. “Musim hujan tanaman cabai selama ini tidak baik, makanya kami mulai mengembangkan tanaman cabai off season di lahan seluas dua hektare. Satu hektare di lahan pertanian dan satu hektare di lahan pasir,” namun hasilnya seperti apa, Joko menyatakan program tanaman cabai di luar musim baru dimulai penanaman pada 5 November lalu sehingga hasilnya belum terlihat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN yang digelar di Kuala Lumpu
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pemkab Bantul siapkan lima kalurahan untuk program Kampung Redam hasil kerja sama dengan Kementerian HAM. Fokus pada resolusi konflik dan keadilan restoratif.
Daftar klub yang lolos ke Liga Champions 2026/2027. Simak klub raksasa yang lolos otomatis dan daftar tim yang berjuang lewat kualifikasi di sini.
KDMP Tamanmartani menggunakan dana LPDB untuk operasional awal klinik pratama sambil menunggu kerja sama BPJS Kesehatan.
Erina Gudono resmi lulus S2 University of Pennsylvania sambil menjalani peran sebagai ibu bagi Bebingah bersama Kaesang Pangarep.