Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Seorang petani di Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, menunjukkan tanaman cabai miliknya yang mengering akibat serangan penyakit patek, Selasa (28/1/2020)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, SLEMAN-Harga cabai di tingkat petani mulai merangkak naik setelah beberapa bulan terakhir anjlok akibat minimnya serapan produksi cabai selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kini, petani mewaspadai patek yang menyerang kala musim hujan.
Salah satu petani cabai di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Suharno, menjelaskan saat ini harga cabai rawit dengan kualitas bagus di tingkat petani sebesar Rp20.000-Rp22.000. “Rawit yang Ori. Kalau yang nggak bagus di bawahnya selisih Rp3.000,” ujarnya.
Sedangkan untuk harga cabai keriting saat ini selisihnya juga tidak jauh dari cabai rawit, yakni di kisaran Rp18.000-Rp20.000 untuk yang kualitas bagus. Selisihnya tidak jauh, bahkan beberapa waktu sebelumnya sempat lebih tinggi harga cabai keriting dibanding cabai rawit.
Pada saat anjlok, ia mengungkapkan harga cabai rawit di tempatnya, yakni di tempat lelang Kelompok Tani Taruna Bumi, hanya di kisaran Rp15.000. hal ini terjadi lantaran tidak maksimalnya serapan cabai oleh masyarakat sepanjang masa PPKM.
Baca juga: Corona di Jogja Hari Ini Meroket Lagi, Tertinggi se-Indonesia
Meski telah merangkak naik, para petani cabai saat ini tetap waspada karena telah memasuki musim penghujan. Di musim ini, tanaman cabai rawan terserang penyakit patek yang membuatnya membusuk. “Karena pengaruh musim hujan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi patek, Suharno dan petani lainnya kini telah memiliki obat yang dapat mengeringkan penyakit tersebut sehingga tidak menyebar ke tanaman cabai di sekitarnya. “Tetap kena tapi kering, nggak menular. Kemaren banyak yang kena. Sekarang juga masih banyak,” katanya.
Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Supramono, mengatakan dalam menghadapi musim penghujan, penggunaan agensia hayati Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Trichoderma untuk memperkuat ketahanan tanaman dari serangan penyakit wajib digunakan sejak awal budidaya.
“Penyemprotan dengan fungisida berperekat, perata dan penembus untuk pengendalian berkembangnya jamur, karena air akan menyebabkan kelembaban tinggi yang memacu perkembangan jamur,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pemkab Bantul siapkan lima kalurahan untuk program Kampung Redam hasil kerja sama dengan Kementerian HAM. Fokus pada resolusi konflik dan keadilan restoratif.
Daftar klub yang lolos ke Liga Champions 2026/2027. Simak klub raksasa yang lolos otomatis dan daftar tim yang berjuang lewat kualifikasi di sini.
KDMP Tamanmartani menggunakan dana LPDB untuk operasional awal klinik pratama sambil menunggu kerja sama BPJS Kesehatan.
Erina Gudono resmi lulus S2 University of Pennsylvania sambil menjalani peran sebagai ibu bagi Bebingah bersama Kaesang Pangarep.