Profil Guruh Soekarnoputra dan Perjalanan Kariernya, Wafat di Usia 73 Tahun
Guruh Soekarnoputra wafat di usia 73 tahun. Simak profil, pendidikan, perjalanan seni, penghargaan, hingga kiprahnya di DPR.
Polisi menunjukkan terduga pelaku klitih dan beberapa barang bukti yang diamankan dalam jumpa pers pada Jumat (4/1/2019) di Polsek Ngaglik./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, JOGJA--Merebaknya kasus klithih di Jogja ditengarai terjadi karena orang tua membiarkan anak-anaknya keluar malam. Hal itu disampaikan Badan Intelijen Negara (BIN) DIY.
Lembaga ini ikut angkat bicara terkait geger tindak kekerasan jalanan atau lazim disebut klithih di Jogja akhir-akhir ini. Klithih bahkan menjadi trending topic di medsos selama empat hari berturut-turut. BIN menegaskan klithih bukan sengaja didesain.
Kepala BIN DIY Brigjen Pol Andry Wibowo menjelaskan berdasarkan riset yang telah dilakukan di Jakarta, fenomena kejahatan jalanan atau disebut dengan klithih di Jogja merupakan fenomena di perkotaan.
Secara sosial kontrol terhadap anak kian berkurang, mereka biasanya dibiarkan di luar rumah pada malam hari, sehingga perlu penguatan seperti Jaga Warga di Jogja.
BACA JUGA: Siap-siap! Jogja Bakal Kebanjiran Pemudik
Menurutnya kombinasi struktural dan sosial cukup efektif diterapkan di Jakarta Timur. Konsep penanganan itu dinilai tetap relevan menjadi model penanganan klithih di Jogja.
“Kalau riset kami dulu di Jakarta Timur itu memang ada problem dari struktural, dari pemerintah polisi dan sebagainya itu terjadi kekosongan atau gap antara ruang publik dengan kegiatan polisionil di malam hari. Sehingga kami waktu itu kami menambah kekuatan di malam hari dan melakukan kegiatan polisonil pada spot yang rawan terjadinya berbagai kejahatan termasuk remaja,” katanya.
Andry menegaskan kasus klithih yang terjadi di Jogja kemudian sampai trending topic selama berhari-hari di medsos menurutnya bukan by design atau setingan. Ia menilai faktanya memang ada kelompok masyarakat yang berada di jalur kejahatan butuh untuk ditangani melalui pendekatan hukum hingga pembinaan pencegahan kenakalan remaja.
“Saya kira ini bukan by design, artinya memang ada patologi sosial, ada masyarakat yang suka atau tidak suka melakukan perilaku menyimpang seperti penggunaan narkoba, mencuri dan sejenisnya. Ini adalah hasil riset saya, dan waktu itu diterapkan di Jakarta Timur dan waktu itu mengalami penurunan,” ujarnya.
Ia menyatakan siap mendukung Pemda DIY dan Polda DIY melalui berbagai pemikiran penanganan klithih melalui berbagai pengalaman dalam menangani hal yang sama. Terkait kemungkinan adanya kelompok besar di balik klithih di Jogja, masih butuh riset lebih lanjut. Tetapi tindakan yang dilakukan pemuda itu biasanya terinspirasi dari berbagai sumber salah satunya pencarian jati diri pada remaja.
“Misalnya ada kelompok yang jika ingin merekrut anggota harus berani memukul atau menyerang, ini yang harus dicermati juga. Sehingga penguatan kekuatan kepolisian di malam hari melalui patroli, harus berani menegur ketika ada remaja nongkrong, suruh pulang, hubungi orangtuanya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Guruh Soekarnoputra wafat di usia 73 tahun. Simak profil, pendidikan, perjalanan seni, penghargaan, hingga kiprahnya di DPR.
29 September 2026 diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional, Hari Jantung Sedunia, hingga Save the Koala Day. Simak enam momen pentingnya.
Prakiraan cuaca DIY Selasa, 29 September 2026: mayoritas cerah berawan, suhu 22–34°C, kelembapan 44–98 persen. Cek rincian per kecamatan.
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Maarten Paes menyebut suporter menjadi pemain ke-11 Timnas Indonesia saat bermain 10 orang melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul Senin 29 September 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini.