Produksi Ikan Turun Drastis, Nelayan Gunungkidul Pilih Tangkap Benur
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Ilustrasi leptospirosis,/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Kasus leptospirosis di Gunungkidul dalam tren peningkatan. Hingga pertengahan Juni sudah ada 22 kasus, empat warga di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Jumlah ini merupakan yang tertinggi dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Data dari Dinas Kesehataan Gunungkidul, sejak 2018-2021, dalam setahun kisarannya paling banyak terjadi tahun lalu dengan jumlah 17 kasus dan empat orang meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, tren kasus leptospirosis mengalami peningkatan. Menurut dia, selama turun hujan, penyakit ini masih bisa bertambah.
Hal ini sejalan dengan adanya fenomena kemarau basah sehingga masyarakat, khususnya warga yang bekerja di sektor pertanian agar lebih berhati-hati terhadap penyebaran penyakit ini. Terlebih lagi, media penularan menggunakan air yang diduga tercampur dengan air kencing tikus.
“Kalau masih hujan maka sangat berpotensi terjadi penularan,” kata Dewi, Minggu (19/6/2022).
Dia menjelaskan, hingga pertengahan tahun ini sudah ada 22 kasus. empat warga yang di antaranya terjangkit dinyatakan meninggal dunia. Adapun di 2021, hanya ada 17 kasus, dengan korban meninggal empat orang. “Tertinggi masih di 2017 dengan 64 kasus dan 17 orang meninggal dunia. Tap memang, sekarang ada tren kenaikan dan jumlah kasusnya masih bisa bertambah,” ungkapnya.
Untuk sebaran kasus, Dewi belum bisa memaparkan secara rinci. Meski demikian, warga yang terjangkit didominasi oleh petani. “Rincian kasus ada di bidang, saya tidak hafal. Yang jelas, kasus didominasi di wilayah pertanian,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, belum menerima data dari dinas kesehatan berkaitan dengan korban leptospirosis yang didominasi oleh petani. Menurut dia, untuk mengetahui pasti penularan dibutuhkan kajian karena di berbagai tempat bisa menjadi sumber penyebaran penyakit.
BACA JUGA: Kronologi Meninggalnya 2 Suporter Persib di Laga Melawan Persebaya
“Bisa saja di pasar, di rumah, sawarh atau tempat lain. Rasanya, masih butuh didalami,” katanya.
Meski demikian, Rismiyadi berkomitmen untuk berpartisipasi dalam penanggulangan. Salah satunya optimalisasi terhadap pengendalian hama tikus yang diduga menjadi sumber penyebaran leptospirosis.
“Berbagai langkah preventif kami lakukan. Mulai dari pengamatan hama di lapangan hingga pelepasliaran burung hantu Tyto Alba yang berfungsi untuk mengurangi populasi tikus di sawah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.