Pilur Gunungkidul Digelar September, 230 TPS Disiapkan
Pilur Gunungkidul 2026 digelar 26 September dengan 230 TPS di 31 kalurahan. DPT ditetapkan 24 Agustus.
Kondisi bangunan calon Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Ngoro-oro, Kapanewon Patuk./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Sejak 2019, Pemkab Gunungkidul berencana membangun dua rumah sakit tipe D di Kapanewon Patuk dan Ponjong. Meski demikian, hingga sekarang belum ada kejelasan kapan proyek ini dapat diselesaikan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan wacana pembangunan rumah sakit umum daerah (RSUD) merupakan komitmen Pemkab Gunungkidul untuk memberikan fasilitas layanan kesehatan ke masyarakat. Kedua rumah sakit tersebut masing-masing berada di Kalurahan Ngoro-oro, Patuk dan Bedoyo, Ponjong.
“Sebenarnya sudah ada puskesmas, tetapi statusnya akan dinaikkan menjadi rumah sakit,” kata Dew, Senin (11/7/2022).
BACA JUGA: Awas! Ubur-Ubur Mulai Terlihat di Pantai Gunungkidul, Sudah Ada 14 Orang Jadi Korban
Menurut dia, pembangunan dua rumah sakit ini sudah dimulai di 2019 lalu. Meski demikian, karena adanya pandemi Corona terhenti karena fokus anggaran dipergunakan dalam upaya penanganan dan penanggulangan wabah.
“Selama dua tahun mandek. Tetapi, tahun ini ada kelanjutan untuk pembangunan di Bedoyo. Detailnya, ada di Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman [DPUPRKP],” katanya.
Dewi mengungkapkan, untuk pembangunan rumah sakit ini membutuhkan biaya yang besar. Di sisi lain, kemampuan anggaran pemkab masih sangat terbatas sehingga penyelesaian dilakukan secara bertahap.
“Adanya keterbatasan ini maka proses tak serta merta bisa langsung jadi. Prosesnya bertahap dengan menyediakan fasilitas rawat inap terlebih dahulu. Selanjutnya, mengacu pada kemampuan anggaran yang dimiliki,” katanya.
BACA JUGA: Penataan Alun-Alun Wonosari Telan Dana Rp918 Juta, Begini Konsepnya
Disinggung soal kebutuhan anggaran, Dewi mengaku belum bisa memastikan. Dia mengaku belum menghitung total kebutuhan karena selain gedung, penyediaan layanan kesehatan juga memerlukan Sumber Daya manusia serta obat-obatan guna menunjang operasional di rumah sakit.
Kepala Bidang Cipta Karya, DPUPRKP Gunungkidul, Nanang Irawanto mengatakan untuk tahun ini ada lanjutan pembangunan RSUD Bedoyo. Total anggaran yang disediakan sebesar Rp500 juta dan dipergunakan melanjutkan pembangunan gedung rawat inap di lantai II.
“Sesuai pagu yang ada untuk pemasangan dinding penyekat, plafon serta kusen pintu dan jendela,” kata Nanang.
Menurut dia, pembangunan rumah sakit membutuhkan biaya yang sangat besar. Sebagai gambaran untuk RSUD Bedoyo berdasar DED yang disusun pembangunan fisik membutuhkan biaya ekitar Rp20 miliar.
Hingga sekarang dana yang dipergunakan membangun baru sebesar Rp6 miliar. “Estimasi masih perlu Rp14 miliar lagi. Ini belum termasuk peralatan kesehatan, SDM hingga obat-obatan yang dibutuhkan penunjang pada saat operasional,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Gunungkidul 2026 digelar 26 September dengan 230 TPS di 31 kalurahan. DPT ditetapkan 24 Agustus.
Pemerintah mengoperasikan 52 pesawat untuk menangani karhutla di enam provinsi prioritas di Sumatra dan Kalimantan.
BNN menggagalkan penyelundupan 2,6 ton sabu cair dari MV Ocean Porter yang diperkirakan berpotensi berdampak pada 14,1 juta jiwa.
Dua gajah sumatera Deo dan Sinta tiba di Tabang Zoo setelah menempuh perjalanan lima hari dari Gembira Loka Zoo Jogja.
Kokap Kulonprogo mengandalkan potensi lokal, Kopi Roro, Waduk Sermo, dan padat karya untuk membuka peluang ekonomi masyarakat.
Impor tanaman hias Indonesia mencapai Rp18 triliun pada 2025. ASA Indonesia mendorong petani lokal meningkatkan produksi aglaonema.