FYP Fest Perdana Tembus 15.000 Penonton, Akan Jadi Agenda Tahunan
Sejumlah musisi ternama tampil memeriahkan FYP Fest, di antaranya NDX AKA, Denny Caknan, Guyon Waton, Trio Macan, dan Lavora
Suasana rapat koordinasi Forum Kemantren./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA — Jogja tercatat sudah 15 tahun menyandang predikat tertinggi Kota Sehat dari Kementerian Kesehatan. Kali pertama mendapatkan predikat itu pada 2007, Pemkot Jogja optimistis dapat mempertahankannya tahun ini.
Setelah tahun lalu tak digelar penilaian Kota Sehat akibat pandemi Covid-19, kini Pemkot Jogja sedang mempersiapkan penilaian untuk Kota Sehat 2023 mendatang. Persiapan yang dilakukan yaitu penguatan kelembagaan dan koordinasi di tingkat organisasi perangkat daerah (OPD). Survei pemantapan 10 lokus Kota Sehat juga dilakukan agar dapat mengutus wilayah terbaik untuk gelaran dua tahunan ini.
Subkoordinator Kelompok Substansi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Olahraga Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jogja, Nur Wara Gunarsih menyebut dasar penilaian Kota Sehat yaitu bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk dihuni penduduk.
“Semua itu dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah,” ucap dia, Jumat (6/8/2022).
BACA JUGA: Kepala SDN Blunyahrejo Bantah Ada Kewajiban Jilbab di Sekolahnya
Wara menyebut tatanan tersebut ada sepuluh, masing-masing empat tatanan wajib dan sisanya adalah tatanan pilihan. “Tetapi karena kami sudah dapat yang tertinggi sepuluh tatanan tersebut kami jalankan,” ujarnya.
Kesepuluh tatanan tersebut masing-masing meliputi permukiman, kehidupan masyarakat sehat mandiri, pasar rakyat sehat, sekolah, rumah Ibadat, pariwisata, transportasi dan tertib lalu lintas jalan, perkantoran dan perindustrian, perlindungan sosial, pencegahan dan penanganan bencana.
“Karena mencakup berbagai OPD, maka penguatan dan koordinasi antar OPD jadi kunci utama untuk mendapat predikat tertinggi,” tutur Wara.
Selain itu partisipasi masyarakat, jelas Wara, juga memegang kunci penting untuk menyukseskan program ini.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jogja, Agus Tri Haryono yang juga Ketua Tim Pembina Kota Sehat mengaku optimistis dapat mempertahankan predikat Swasti Saba Wistara, gelar tertinggi Kota Sehat. “Kami berharapnya lebih yaitu dapat melembagakan kesehatan masyrakat pada masyarakat itu sendiri,” jelasnya, Jumat (5/8/2022).
Bappeda Jogja, kata dia, telah menyurvei secara maraton untuk menentukan kemantren hingga kelurahan sesuai lokus unggulannya dalam Kota Sehat ini. “Sudah ada pemetaan dan koordinasi dengan perangkat kemantren dan kelurahan agar bisa menyukseskan program ini,” ujarnya.
Koordinasi dengan perangkat kemantren dan kelurahan, jelas Agus, adalah langkah kunci membangun partisipasi masyarakat dalam melembagakan kesehatan. “Supaya dari masyarakat punya kesadaran yang tinggi akan kesehatan ini,” ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah musisi ternama tampil memeriahkan FYP Fest, di antaranya NDX AKA, Denny Caknan, Guyon Waton, Trio Macan, dan Lavora
Pemkab Sleman bersama Satgas Pangan Polresta Sleman memperkuat pengawasan stok dan harga bahan pokok guna menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah Sleman.
Penyaluran Dana Penguatan Modal Sleman 2026 mencapai Rp6,3402 miliar atau 32,31% dari total plafon Rp19,625 miliar.
Program padat karya di Gunungkidul digelar di 65 titik pada 2026 dengan anggaran Rp100-200 juta per lokasi untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi
BMKG mengimbau pengelola PLTA mengantisipasi lonjakan beban listrik selama El Nino. Fenomena ini diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026 hingga Januari
Mendagri Tito Karnavian menyebut aturan gaji kepala daerah yang berlaku sejak 2000 akan direvisi agar lebih sesuai dengan kondisi ekonomi dan kinerja daerah.