KDMP Gunungkidul Dibangun di 30 Titik, Ini Persoalan di Lapangan
Pembangunan gerai dan gudang KDMP di Gunungkidul mencapai 30 titik. Namun, muncul persoalan biaya listrik, air, dan persaingan usaha warga.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA — Beberapa hari lalu, Universitas Ahmad Dahlan merilis hasil penelitian terkait dengan tingginya kandungan mikroplastik pada air hujan yang turun di sejumlah titik di Jogja.
Terkait dengan hal itu, UPT Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mengaku tak bisa memantaunya dengan detail. Pasalnya, hingga kini DLH Kota Jogja belum memiliki standar baku terkait dengan pengukuran kandungan mikroplastik pada air.
"Untuk mikroplastik memang belum ada baku mutu pengujiannya. Karena kan pengujian itu dasarnya adalah standar baku mutu dan ada parameter yang harus dipenuhi dan tidak boleh melebihi standar tadi itu. Ketika sebuah parameternya tidak ada di situ ya sehingga pemantauan juga tidak ada," kata Kepala UPT Laboratorium Lingkungan DLH Kota Jogja, Sutomo, Senin (15/8/2022).
BACA JUGA: Pemda dan DPRD DIY Ingin Pelantikan Sultan Dipercepat, Ternyata Ini Alasannya
Sutomo menerangkan, pengujian maupun pengukuran terhadap kualitas lingkungan harus mempunyai standar mutu yang telah melewati kajian. Setelah ditetapkan dengan standar tertentu, indikator terhadap kualitas lingkungan akan lebih mudah ditentukan dengan mengacu pada standar baku yang telah ditetapkan tadi. Hanya saja kajian terhadap penentuan standar baku itu membutuhkan waktu yang panjang dan cukup kompleks.
"Kami kan instansi pendukung yang mana penentuan kualitas lingkungan itu lebih dulu ada pengawasan. Kemudian untuk standar baku ada peraturan yang diterbitkan. Karena kan pengujian itu nanti akan dibandingkan dengan standarnya apakah memenuhi atau tidak, jadi kalau tidak ada standar kan kita tidak bisa mengukur apakah sesuai standar atau tidak," jelas dia.
Meski begitu, Sutomo berpendapat bahwa kualitas air yang terpapar mikroplastik merupakan hal umum yang terjadi di perkotaan. Sebab, segala aktivitas manusia yang mengandung plastik dan berbagai macam pemicu lainnya bisa mengakibatkan air tercemar dengan partikel itu. Biasanya sungai menjadi tempat yang paling banyak terpapar mikroplastik.
"Yang paling nyata dan mudah ditemui itu ya di sungai karena kan dari sampah yang kadarnya mengandung plastik kemudian berubah menjadi partikel mikroplastik dan sumbernya banyak sekali itu," jelas dia.
Upaya penanggulangan memang harus melibatkan unsur kelompok masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, pusat mesti merespons penelitian ini dengan optimal untuk kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan berbagai macam kebijakan turunan berkaitan dengan pengurangan sampah plastik. Sebab, segala macam aktivitas manusia yang menggunakan plastik bisa menjadi penyumbang besar bagi kualitas air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan gerai dan gudang KDMP di Gunungkidul mencapai 30 titik. Namun, muncul persoalan biaya listrik, air, dan persaingan usaha warga.
Catat jadwal KA Bandara YIA reguler dan Xpress dari Tugu Jogja ke YIA maupun sebaliknya, lengkap dengan waktu keberangkatan.
Cek jadwal KRL Palur-Jogja Rabu 19 Agustus 2026, lengkap dari Stasiun Palur hingga Stasiun Yogyakarta.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 19 Agustus 2026 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur, lengkap dengan waktu di setiap stasiun.
Pascagempa NTT, 32 dari 33 titik longsoran telah ditangani. BNPB mencatat 68 orang meninggal dan 213 lainnya luka-luka.
SAC menggelar pameran 150 lukisan untuk merayakan HUT RI ke-81 sekaligus merespons dinamika global dan memperkuat pesan perdamaian.