Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo (tengah) dan Perwakilan dari Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementrian Pertanian RI, Ginting Tri Pamungkas (kanan) menunjukkan hasil panen cabai di Trimulyo di Padukuhan Kalirase, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Sleman, Selasa (13/9/2022)./Ist Humas Sleman
Harianjogja.com, SLEMAN—Mengatasi permasalahan hama pada tanaman hortikultura, khususnya cabai, Kementerian Pertanian bersama Pemkab Sleman menggalakkan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT).
Hal ini salah satunya dilaksanakan di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Trimulyo di Padukuhan Kalirase, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Sleman, Sleman, Selasa (13/9/2022). Perwakilan dari Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementrian Pertanian RI, Ginting Tri Pamungkas dan Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo hadir dalam kegiatan ini.
Ginting menjelaskan tujuan program PPHT adalah untuk mensosialisasikan mengenai cara pengendalian hama tanaman Hortikultura khususnya cabai. PPHT kata dia, menggunakan cara yang terpadu dan ramah lingkungan.
“PPHT yang dilaksanakan oleh Gapoktan Trimulyo ini berdasar pemantauan kami berjalan dengan baik, dan kedepannya Trimulyo bisa menjadi kampung hortikultura yang nantinya akan kami fasilitasi dari pra hingga pasca panen,” ujarnya.
BACA JUGA: Selokan Mataram Dikeringkan, Ratusan Hektare Lahan Pertanian Terdampak
Sejalan dengan hal tersebut, Kustini menuturkan Sleman merupakan salah satu sentra cabai nasional. Oleh karenanya, dalam memperoleh produksi cabai yang cukup diperlukan upaya pengendalian hama agar hasil cabai dapat optimal.
Tidak hanya produksi cabai yang optimal, Pemkab Sleman juga berkomitmen dalam mewujudkan pertanian yang sehat dan pengurangan bahan kimia pada pertanian dengan pemanfaatan agen hayati serta pestisida nabati.
Dalam mengoptimalkan upaya pemanfaatan agen hayati, Pemkab Sleman memiliki 14 Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOPT) dan 24 Regu Pengendali Tanaman (RPT) yang merupakan sukarelawan petani. “Harapannya dapat mengedukasi para petani untuk mengantisipasi hama dan penyakit tanaman dengan cara yang sehat dan tepat," katanya.
Ketua Sekolah Lapang PPHT Gapoktan Trimulyo, Parjono, menjelaskan komoditi hortikultura khususnya cabai menjadi salah satu penopang kehidupan petani Gapoktan Trimulyo. Penggunaan agen pengendali hayati dalam pertanian hortikultura di Trimulyo memberikan hasil positif.
“Yakni mengurangi 90 persen layu dan busuk batang. Kami berharap kedepannya dapat diberikan dukungan dan kolaborasi dalam rangka mengoptimalkan pertanian hortikultura di Gapoktan Trimulyo ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
BACA JUGA: Sultan Tegaskan Karyawan Mal Malioboro dan Hotel Ibis Tidak Akan Dipecat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ferrari Luce, mobil listrik pertama Ferrari, terjual Rp600 miliar dalam lelang amal. Harganya 35 kali lipat dari harga normal.
Antusiasme masyarakat terlihat saat mengunjungi Stand RSUD Saras Adyatma dalam Bantul Creative Expo 2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul.
Gempa M7,7 NTT membuat Goa Rangko, Wae Rebo, dan Taman Nasional Kelimutu ditutup sementara untuk memastikan keselamatan wisatawan.
DPRD Jogja meminta target retribusi parkir Dishub disesuaikan kondisi riil 731 titik parkir agar potensi pendapatan lebih optimal.
Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta terus memperluas transfer teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM)