Imunisasi Anak Sekolah di Gunungkidul Tembus 96,8%, Penyisiran Masih Berlanjut
BIAS Gunungkidul mencapai 96%. Dinkes terus melakukan penyisiran untuk meningkatkan cakupan vaksinasi siswa kelas 1, 2, dan 5.
Ilustrasi siswa SDN Tepus 2 belajar sendiri di balai dusun./Istimewa.
Harianjogja.com, Gunungkidul – Dinas Pendidikan Gunungkidul memastikan program regrouping sekolah masih akan berlanjut. Kebijakan ini diambil untuk memaksimalkan proses belajar mengajar karena hingga sekarang banyak sekolah yang kekurangan murid.
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati mengatakan, masih mengkaji soal dengan program regrouping sekolah di Bumi Handayani. Menurut dia, penggabungan merupakan salah satu opsi dalam upaya memaksimalkan program pembelajaran di sekolah.
“Terakhir, kami menggabung siswa di SD Negeri Tepus 2 ke sekolah lain. Sekarang, kami masih melakukan evaluasi dan program regrouping akan terus dilakukan,” kata Nunuk, Senin (3/10/2022).
Meski demikian, dia belum bisa memastikan berapa jumlah SD di Gunungkidul yang akan digabung. Nunuk berdalih, data yang ada merupakan data lama. Sedangkan dari perkembangan sekolah terus berubah setiap tahunnya.
“Ada yang tambah jumlah siswanya saat tahun ajaran baru, tetapi ada yang turun. Jadi, kami lakukan inventarisasi ulang terkait dengan sekolah yang akan digabung,” katanya.
BACA JUGA: Hujan Deras Akibatkan Longsor di Sejumlah Titik di Gunungkidul
Disinggung soal polemik penggabungan di SD Negeri Tepus 2, Nunuk mengakui sudah selesai. Para siswa di sekolah tersebut sudah dipindahkan ke sekolah lain.
Adapun permasalahan akses tranportasi, menurut dia, juga sudah terselesaikan. Hal itu sudah terselesaikan dengan adanya transportasi antar jemput dari sekolah yang baru. “Sediakan mobil untuk menjemput anak-anak, saat berangkat maupun pulang sekolah,” katanya.
Kepala Bidang SD, Dinas Pendidkan Gunungkidul, Taufik Aminuddin mengatakan, sejak awal tahun sudah ada dua SD yang digabung. Yakni, SD Negeri Candirejo 2 di Kalurahan Candirejo, Semin dan SD Negeri Tepus 2 di Kalurahan Tepus, Tepus.
“Memang ada rencana menggabung sekolah lainnya. Tapi, masih kami kaji karena sekarang banyak sekolah yang kekurangan murid,” katanya.
Taufik mengungkapkan, pengabungan SD harus melalui kajian yang matang. Meski ada sekolah yang kekurangan murid, maka tak serta merta digabungkan karena ada beberapa syarat yang harus terpenuhi.
Sebagai contoh, di kawasan tersebut masih ada sekolah lainnya. Sedangkan dari jumlah siswa dalam kurun waktu tiga tahun kurang dari 60 anak sehingga berpotensi digabung. “Makanya terus mengkaji penggabungan ini,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BIAS Gunungkidul mencapai 96%. Dinkes terus melakukan penyisiran untuk meningkatkan cakupan vaksinasi siswa kelas 1, 2, dan 5.
Sejumlah lurah di Kabupaten Kulonprogo enggan melakukan penandatanganan serah terima aset gerai Koperasi Desa Merah Putih meskipun fasilitas gedungnya sudah ram
Sebanyak 117 santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo kembali dirawat setelah menjalani pemulihan dugaan keracunan MBG.
Gibran meninjau penanganan karhutla di tiga provinsi Kalimantan dan meminta pemadaman berjalan bersama perlindungan warga serta pencegahan.
Dua pria asal Bandung ditangkap setelah diduga membobol rumah di Bantul. Uang asing hasil curian diakui ludes untuk judi online.
Agenda KHFF 2026 diperkenalkan kepada publik melalui Taklimat Media KHFF 2026 yang digelar pada 10 September 2026 di The Prajan Hotel & Villas, Yogyakarta.