Lumbung Mataram Kalurahan Purwosari di Kulonprogo Mengoptimalkan Pertanian dan Peternakan Warga
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Setelah dituntut jaksa penuntut umum (JPU) dengan 11 dan 10 tahun penjara, kelima terdakwa klitih atau kekerasan jalanan (rasjal) Gedongkuning membacakan pledoi di Pengadilan Negeri (PN) Jogja, Kamis (20/10/2022). Mereka bersikukuh bukan pelaku penganiayaan yang menyebabkan kematian Daffa Adzin Albasith, 18, seorang pelajar Jogja pada April lalu.
Penasihat hukum terdakwa rasjal Gedongkuning, Arsiko Daniwidho Aldebarant, menjelaskan sudah membantu mempersiapkan pledoi kliennya tersebut. “Dalam pledoi kami minta pada majelis hakim untuk memberikan putusan bebas,” katanya, Kamis siang.
Permintaan bebas dalam pledoi, menurut Arsiko, lebih beralasan daripada tuntutan JPU. “Keputusan JPU untuk memberikan tuntutan 11 dan 10 tahun penjara tanpa dasar sama sekali, alat bukti mereka saja tidak bisa menjawab apakah terdakwa memang benar-benar pelaku penganiayaan tersebut,” jelasnya.
Setelah pledoi, agenda persidangan selanjutnya adalah pembacaan tanggapan JPU atas pledoi terdakwa atau replik. “Nanti kami lihat dulu replik dari JPU seperti apa, dari replik itu nanti kami buat tanggapan lagi yaitu duplik,” ujarnya.
Arsiko menyebut putusan hakim akan dilakukan setelah pembacaan duplik oleh penasihat hukum terdakwa. “Kami berharap Majelis Hakim memberikan putusan yang benar-benar adil sesuai fakta hukum yang ada karena memang terdakwa ini bukan pelaku klitih Gedongkuning,” katanya.
Sementara itu, ayah terdakwa RNS, Asril menyakini anaknya tak bersalah. “Saat kejadian anak saya ini tidak ada di lokasi perkara, jadi tidak mungkin dia pelakunya,” katanya, Kamis siang di PN Jogja.
Asril menyebut RNS sebagai korban salah tangkap. “Saat anak saya ditangkap di rumah langsung di dalam mobil itu dipukuli, saat pemeriksaan di Polsek Kotagede dan Polsek Sewon juga mendapat kekerasan, dipaksa untuk mengakui hal yang tak dilakukannya,” jelasnya.
BACA JUGA: Miras Oplosan Renggut 3 Nyawa di Jetis, Enam Polsek di Bantul Kompak Gelar Razia
Saat pemeriksaan itu, Asril tak dapat menemani dan menemui anaknya selama tiga hari. “Kenapa waktu pemeriksaan itu enggak boleh, bahkan termasuk oleh kuasa hukumnya, kan ini janggal sejak dalam pemeriksaan dan pembuatan BAP,” ujarnya.
Dalam pembuktian di persidangan, jelas Asril, alat bukti juga tidak menunjukan bahwa anaknya sebagai pelakunya. “Bukti CCTV itu juga sudah membantah kalau anak saya pelakunya,” katanya.
RNS sendiri dituntut 11 tahun penjara karena diduga menjadi eksekutor penganiayaan. Terdakwa lain yaitu FAS dan MA dituntut 10 tahun penjara,
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Kemendag meminta klarifikasi Shopee terkait aduan konsumen PMSE, mulai barang tak sesuai hingga kendala pembayaran digital.
Indomaret Cabang Yogyakarta Bersama PMI Sleman kembali Gelar Aksi Donor Darah Disertai Pemeriksaan Mata dan Cek Kesehatan Gratis Dari Puskesmas Gamping 2
Rute Trans Jogja 2026 makin luas dengan pembayaran digital memakai GoPay dan kartu elektronik. Cek daftar jalur dan tarif terbaru di DIY.
Sharp Indonesia Hadirkan Professional Portable Speaker Terbaru dengan Suara Powerful untuk Karaoke hingga Live Performance
Menlu Sugiono memastikan penangkapan WNI dalam misi Gaza bukan penyanderaan. Pemerintah RI terus mengupayakan pemulangan mereka.