Pengusaha Baju Muslim di Bantul Raup Omzet Rp1 Miliar dalam Sebulan
Pada April tahun ini, omzet usahanya bahkan menembus Rp1 miliar dalam satu bulan, sementara omzet rata-rata bulanannya mencapai puluhan hingga ratusan juta
Ilustrasi objek wisata Seribu Batu Songgo Langit, Mangunan, Dlingo, Bantul. Jalan menuju obhek wisata ini russak parah./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, BANTUL—Pelaku wisata di Kapanewon Dlingo, Bantul, mengeluhkan kondisi jalan Patuk-Dlingo atau penghubung Gunungkidul dan Bantul rusak parah, lebih parah daripada Jalan Godean yang belakangan viral. Jalur tersebut merupakan jalur wisata yang banyak dilalui bus-bus pariwisata.
Ketua Koperasi Notowono atau komunitas yang membawahi sejumlah objek wisata di Dlingo, Purwo Harsono mengatakan kerusakan Jalan Patuk-Dlingo sudah terjadi bertahun-tahun dan pihaknya sudah berupaya untuk mengusulkan perbaikan jalur tersebut.
Ada sekitar enam kilometer jalan yang rusak. “Itu jalan aspalnya sudah hancur, kalau hujan berlumpur, dan banyak yang berlubang, jelas kondisi ini sangat menganggu karena itu kan jalur wisata,” katanya saat dihubungi Kamis (2/2/2023).
Menurutnya, warga dan para pelaku wisata sudah berupaya untuk tambal sulam dengan cor blok untuk jalan yang berlubang secara swadaya. Upaya itu dilakukan untuk memudahkan akses kendaraan wisatawan terutama bus-bus pariwisata yang hendak berkunjung ke sejumlah objek wisata di Dlingo.
BACA JUGA: Memprihatinkan! Sejumlah Jalan ke Lokasi Wisata di Gunungkidul Banyak yang Rusak
Namun karena musim hujan kondisi jalan kembali berlubang. Pria yang akrab disapa Ipung ini berharap ada perbaikan jalan dari pemerintah. “Informasinya tahun ini akan ada perbaikan dari Pemerintah Provinsi karena jalur itu merupakan kewenangan dari provinsi,” ucapnya.
Kepala Seksi Promosi dan Informasi Wisata Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Adi, mengatakan ada beberapa ruas jalan menuju objek wsiata yang rusak, namun yang rusak parah itu ada di Jalan Patuk-Dlingo. “Khususnya dari Patuk-Pengger menuju Becici,” katanya.
Kondisi tersebut diakuinya sudah dikomunikasikan dengan instansi terkait oleh pengelola wisata setempat. Namun karena jalur tersebut kewenangan provinsi sehingga perlu diajukan ke Pemda DIY.
Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Jalan Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) DIY, Wira Sasongko Putro tidak menampik Jalan Patuk-Dlingo mengalami kerusakan.
BACA JUGA: 5 Fakta Jalan Godean Sleman Diadukan ke Gibran, Perbaikan Tak Bisa Pakai Danais
Kerusakan jalan tersebut diakuinya karena awalnya pembangunan jalan itu adalah jalan lingkungan yang masuk kewenangan kalurahan. Seiring waktu jalan itu beralih menjadi kewenangan kabupaten. Namun sejak beberapa tahun terakhir karena banyak destinasi wisata di wilayah Dlingo dan kondisi jalan tersebut ramai dan strategis sehingga kewenangan diambil alih oleh provinsi.
Lebih lanjut Wira mengatakan awalnya pembangunan jalan tersebut tidak diperuntukan untuk kendaraan bertonase besar. Namun kini arus lalu lintas di jalan tersebut cukup tinggi dan banyak kendaraan besar seperti bus pariwisata dan kendaraan penangkut kayu yang bertonase lebih dari delapan ton sehingga jalan cepat rusak.
Sebenarnya, kata dia, pada tahun 2020 lalu ada upaya untuk perbaikan jalan Patuk-Dlingo, namun karena ada pandemi Covid-19 sehingga dana perbaikan jalan terkena refocusing. Ia berujar ada sekitar enam kilometer jalan tersebut yang harus diperbaiki dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp50 miliar.
Perbaikan akan dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran. “Dari total jalan sepanjang enam kilometer, yang akan diperbaiki tahun ini sekitar 1,5 kilometer dengan anggaran sekitar Rp13 miliar,” katanya.
Sebelumnya, Jalan Godean viral di Twitter setelah kondisinya diadukan kepada Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Jalan Godean tidak banyak berlubang, tetapi ada bekas jalur pipa dari timur Sungai Progo sampai barat Pasar Godean yang membuat pengendara harus pelan-pelan membawa kendaraan bermotor. Sebagian besar ruas Jalan Godean juga bergelombang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pada April tahun ini, omzet usahanya bahkan menembus Rp1 miliar dalam satu bulan, sementara omzet rata-rata bulanannya mencapai puluhan hingga ratusan juta
KPAID Kota Jogja mendorong penerapan pasal lebih berat dalam kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta
Prabowo targetkan pembangunan 5.000 desa nelayan lengkap SPBU khusus, cold storage, dan fasilitas es batu hingga 2027.
BNNP DIY mengungkap modus sabu disembunyikan dalam speaker di Bantul. Seorang mahasiswa ditangkap bersama sabu dan tembakau sintetis