Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Foto Ilustrasi. /Antara Foto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Harga jual telur di pasaran Gunungkidul masih tinggi. Meski demikian, Pemkab Gunungkidul belum mewacanakan operasi pasar untuk stabilitas harga jual di masyarakat.
BACA JUGA: Sepekan Terakhir, Harga Telur Melejit
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan, harga telur masih relatif tinggi. Untuk sekarang dijual di kisaran Rp30.000 per kilogram.
“Minggu lalu sempat tembus Rp32.000 per kilo, tapi sekarang sudah mulai turun,” katanya kepada wartawan, Senin (29/5/2023).
Kelik menjelaskan, kenaikan harga telur sudah terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Meski sudah menurun, tapi harganya masih relatif tinggi karena belum kembali ke harga normal.
“Kami terus pantau terkait dengan pergerakan harga-harga di pasaran,” katanya.
Disinggung mengenai program 15 ton telur dari luar daerah, ia mengakui masih menunggu instruksi berkaitan dengan pelaksanaan operasi pasar di Gunungkidul. “Belum ada informasi untuk operasi. Untuk kepastian, kami terus coba lakukan koordinasi,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Seksi Distribusi, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Retno Utami. Menurut dia, sudah ada penurunan, tapi belum terlalu signifikan.
“Kalau normalnya di kisaran Rp27.000 per kilogram. Untuk sekarang masih di atas harga normal,” katanya.
Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga jual tinggi. Salah satunya disebabkan karena harga pakan yang mahal.
“Tentunya akan berpengaruh terhadap biaya produksi sehingga pada saat dijual harus dilakukan penyesuaian,” katanya.
Kenaikan harga juga terjadi karena indukan ayam yang sudah memasuki fase afkir. Kondisi ini berdampak terhadap tingkat produktifitas karena indukan afkir proses tidak bisa bertelur.
Ia mengakui pada saat pengawasan ke produsen, sudah dilakukan pergantian dengan indukan baru. Meski demikian, lanjut Retno, untuk bisa berporduksi secara maksimal membutuhkan waktu.
“Makanya berdampak terhadap produksi yang berkurang. Dua faktor inilah yang menyebabkan harga telur jadi naik,” katanya.
Di sisi lain, sambung Retno, juga ada program penanggulangan stunting dengan memberikan bantuan paket telur sehingga berpengaruh terhadap harga jual.
“Dengan program bantuan telur untuk pencegahan stunting, maka permintaan di pasaran meningkat. Tentunya, ini berdampak terhadap harga jual telur di pasaran,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Dua pria ditangkap usai diduga tabrak lari di Solo. Mobil menabrak tiang dan pohon, pelaku sempat diamuk massa.
Lima dosen UPN Jogja disanksi setelah terbukti lakukan pelecehan verbal. Kampus tegaskan komitmen lingkungan bebas kekerasan.
Pemerintah bongkar mafia pangan, dari beras oplosan hingga pupuk palsu. Kerugian rakyat ditaksir puluhan triliun rupiah.
Wapres Gibran dorong digitalisasi sekolah di Papua dan NTT. Fokus pada teknologi pendidikan dan peningkatan skill generasi muda.
SPMB Bantul 2026 resmi ditetapkan. Pendaftaran SMP full online dengan sistem RTO, ini syarat, jalur, dan kuotanya.