Merayakan Sukacita Bersama NIKI di Bawah Langit Prambanan
Sebagai puncak selebrasi sukacita tahun ini, Prambanan Jazz 2026 resmi mengumumkan NIKI, musisi kebanggaan Indonesia yang telah mendunia
Pementasan wayang sodo yang digelar oleh TBY di Gunungbang, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (15/6/2023). / Harian Jogja/David Kurniawan
GUNUNGKIDUL—Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar pementasan wayang sodo di Dusun Gunungbang, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (15/6/2023). Kegiatan ini bertujuan melestarikan seni, adat dan tradisi di DIY.
Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Seni Budaya, TBY, Diah Wahyu Aprilina mengatakan pementasan yang digelar bertajuk Revitalisasi Wayang Sodo. Adapun pelaskanaan berada di rumah Marsono, penggagas terbentuknya seni pertunjukan wayang sodo. “Berlangsung selama satu hari pementasannya,” kata Diah, Kamis.
Menurut dia, dengan pementasan tersebut diharapkan seni, adat dan tradisi yang dimiliki dapat terpelihara sehingga tidak punah oleh kebudayaan modern dari luar negeri. “Revitalisasi menjadi media promosi agar masyarakat tahu dengan ikut melestarikan keberadan wayang sodo,” ungkapnya.
BACA JUGA: Ditertibkan, Pengamen di Malioboro Kerap Kabur ke Pasar Beringharjo
Diah menambahkan, pelestarian yang dilakukan merupakan kegiatan rutin dan digelar setiap tahun. TBY sebagai wadah laboratorium budaya memiliki andil dalam upaya pelestarian budaya.
Ia mengungkapkan pementasan menyasar kepada seni pertunjukan klasik dan seni kerakyatan. Pentas wayang sodo masuk dalam klasifikasi seni kerakyatan yang layak direvitalisasi.
“Kami berkomitmen untuk berpartisipasi dalam pelestarian. Kalau masyarakat memiliki kesenian yang sekiranya butuh dilestarikan, TBY siap mengakomodasinya,” kata Diah lagi.
Penggagas wayang sodo, Marsono mengatakan untuk kegiatan Revitalisasi Wayang Sodo yang digagas TBY mengambil lakon Ki Sodo Lanang Mukso. Adapun pementasan tidak beda jauh dengan pertunjukan wayang kulit, namun dengan instrumen gamelan yang lebih sederhana.
“Saya menggagas wayang sodo sejak 2011 lalu dan sekarang terus berupaya melestarikannya,” katanya.
Dia menjelaskan, penamaan wayang sodo tidak lepas dari bahan baku pembuatan wayang yang berasal dari lidi pelepah daun kelapa. Adapun tokohnya juga tidak jauh dari nama pohon kelapa mulai dari Ki Sodo Lanang, Cengkir Gading, Prabu Glugu Waseso, Patih Blarak Sempal dan Manggar Sari.
“Untuk cerita saya buat sendiri. Tapi, ada juga yang menyadur dari lakon pertunjukan wayang kulit,” kata Marsono.
Dia berharap dengan pertunjukan ini maka keberadaan wayang sodo bisa lebih diterima masyarakat secara umum. Selain itu, bisa menjadi benda warisan budaya di Gunungkidul. “Wayang sodo satu-satunya di dunia karena hanya ada di Gunungkidul,” katanya.
Ia mengakui pentas wayang sodo di Gunungkidul masih sangat sedikit dan intensitasnya kalah dengan wayang kulit. “Pementasan lebih untuk penelitian atau karya ilmiah mahasiswa. Makanya dengan pentas ini, kami berharap keberadan wayang sodo bisa diterima lebih luas lagi,” katanya. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebagai puncak selebrasi sukacita tahun ini, Prambanan Jazz 2026 resmi mengumumkan NIKI, musisi kebanggaan Indonesia yang telah mendunia
Program Makan Bergizi Gratis dipastikan terus berjalan. Hashim tegaskan komitmen Prabowo dan soroti pentingnya pengawasan.
Wali Kota Solo Respati Ardi dilaporkan ke Kejari terkait baliho ultah Jokowi. Ia hormati proses hukum dan siap mengikuti aturan.
IFBC 2026 Jogja resmi dibuka di JEC, hadirkan ratusan peluang usaha dan dorong UMKM bersaing di pasar global.
KPK dalami pengakuan Menhut soal amplop dari Bupati Kuansing. Diduga terkait izin kawasan hutan dan gratifikasi.
Teh hijau usai makan malam bantu turunkan kolesterol LDL. Kaya katekin dan antioksidan, tapi bukan solusi instan.