Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Gejala Antraks - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul masih menunggu hasil pengetesan suspek antraks di Dusun Semuluh Lor (sebelumnya hanya tertulis Semuluh), Ngeposari, Semanu. Total warga yang diambil sampel darah untuk pengecekan sebanyak 22 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco mengatakan dugaan kasus antraks di Dusun Semuluh Lor bermula adanya praktik brandu seekor kambing milik warga. Pada awalnya, terdapat dua warga yang mengalami luka kulit mirip antraks.
Temuan ini ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel darah untuk kepastian penyebab penyakit yang menyerang dua warga. Namun, untuk antisipasi, pengetesan melibatkan lebih banyak warga karena total ada 22 orang yang dites. “Awalnya hanya dua, tetapi setelah dilakukan penyelidikan dan pemeriksaan totalnya ada 22 orang yang diperiksa,” kata Sidig, Rabu (19/7/2023).
BACA JUGA: Dua Warga Suspek Antraks di Semanu Diketahui Sempat Menyembelih Kambing
Dia menjelaskan, pemeriksaan terhadap 20 warga lainnya dilakukan karena ikut mengonsumsi daging kambing yang dibrandu. Meski demikian, Sidig mengakui hingga sekarang masih menunggu kepastian tentang penyeberan penyakit antraks di wilayah tersebut. “Hasil tesnya belum keluar,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, masih menunggu hasil tes antraks di suspek antraks di Dusun Semuluh Lor. Meski demikian, upaya pemeriksaan kesehatan terhadap dua warga suspek antraks terus dilakukan.
Menurut dia, kondisi warga sudah berangsur-angsur sembuh dikarenakan luka kulit yang dialami mulai mengering. Dewi berharap kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan tetap menjalankan kehidupan bersih dan sehat serta rajin berolahraga. “Pastikan makanan yang dikonsumsi benar-benar sehat dan tidak terkontaminasi penyakit,” katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, usai mendapatkan laporan dari dinas kesehatan, langsung menerjunkan petugas guna pemeriksaan. Untuk kepastian, juga sudah mengambil sampel tanah di sekitar lokasi kedua warga.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan petugas, kedua warga yang menjadi suspek antraks, melakukan aktivitas penyembelihan kambing dan mengkonsumsi dagingnya. Retno memastikan kambing yang disembelih masih dalam keadaan hidup. “Untuk kasus di Semuluh Lor belum ada dan sekarang baru dugaan. Untuk kepastian masih menunggu hasil tes, hingga sekarang juga belum ada laporan ternak mati,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Israel kembali menyerang armada bantuan Gaza di laut internasional. Puluhan kapal disita dan ratusan aktivis ditahan.
Jadwal KRL Solo–Jogja 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Palur ke Tugu. Cek jam berangkat terbaru dan tarif Rp8.000.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.