WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Sampah - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman masih mengupayakan lahan untuk tempat penitipan sampah sementara. Setelah sempat ditolak oleh warga di lokasi sebelumnya, pemerintah kini menargetkan lokasi baru yang juga masih berada di wilayah Cangkringan.
Kepala DLH Sleman, Epiphana Kristiyani mengaku bisa memahami penolakan warga di lokasi sebelumnya, tepatnya di Karanggeneng, Kalurahan Umbulharjo. Dengan sebagian warga yang menolak, maka pihaknya mengusahakan di lokasi lainnya dan tetap di Cangkringan.
Hanya saja, dia belum menyebutkan tepatnya lokasi tersebut. Meski begitu dia memastikan target persiapan tetap sama, yakni awal pekan depan sudah bisa digunakan. “Jadi target kami mungkin sekitar Senin-Selasa, atau Selasa-Rabu ya, itu sampah sudah bisa kami titipkan di sana,” katanya, Kamis (27/7/2023).
Adapun persiapan teknis sejauh ini, pihaknya telah menyediakan geomembrane meski saat ini posisinya belum ada di lokasi. Adapun penataan lahan menurutnya bisa dilakukan mulai Jumat (28/7/2023). “Kami akan mulai lakukan konstruksi di sana. Menata lahan, kemudian kami kebetulan kan sudah pesan untuk geomembran ini tersedia walaupun sekarang posisinya belum disini,” katanya.
BACA JUGA: Kiriman Sampah Ditolak: Jangan Berpikir Teritorialisme
Lahan baru ini, kata dia, memiliki luasan yang sama dengan lokasi sebelumnya, yakni sekitar 2 hektare. Adapun sampah yang diangkut ke lokasi itu nantinya adalah sampah dari Sleman yang ditargetkan sebanyak 150 ton serta sampah dari Kota Jogja yang volumenya menyesuaikan.
Sampah yang diangkut ke situ akan ditata memanjang dan dengan bedengan seperti pertanian cabai. Dengan sistem seperti itu, di atas kertas bisa diterapkan di lahan 2 hektare selama 45 hari. “Di lahan yang ditetapkan memang kawasan resapan air, tetapi kebetulan memang hanya itu yang jauh dari pemukiman,” ujar dia.
Dia mengungkapkan Cangkringan menjadi pilihan satu-satunya karena yang memungkinkan untuk jauh dari permukiman. “Kenapa saya ke Cangkringan, yang pertama karena jauh dari pemukiman, terutama untuk area-area bekas tambang sangat jauh dari pemukiman,” ungkapnya.
Sementara kalau di wilayah lain, Pemkab Sleman kesulitan mengelola dampak sosial yang ditimbulkan. “Kebetulan kami dibantu artinya Pak Sultan ngendika bahwa beliau sudah menyediakan tanah Sultan Grond di Cangkringan. Artinya secara psikologis masyarakat mungkin, ya ini sudah dhawuh Pak Sultan,” kata dia.
Selain itu, di Cangkringan juga sudah mulai dikoordinasikan dengan pemangku wilayah. “Pada tahap tertentu kami sudah mendapatkan, ya bisa mengatasi itu sehingga kalau saya mau milih Cangkringan, ya itu artinya mereka sudah siap, walaupun kesiapannya itu baru berapa persen,” paparnya.
Dia menegaskan masyarakat yang berada di sekitar lahan penitipan sampah nantinya tidak perlu khawatir karena sifatnya hanya sementara sebelum dipindahkan ke TPA Piyungan. “Konsepnya kan hanya titip selama dua bulan. Kemudian setelah itu kami akan bawa sampah itu kembali pada saat TPA piyungan sudah operasional kembali,” katanya.
Setelah digunakan pun nantinya lahan akan dikembalikan seperti semula. Untuk mengecek terjadi pencemaran atau tidaknya, DLH Sleman akan membuat sumur pantau. “Pada awal kita uji kualitasnya, kualitas air kita ketahui, kemudian secara periodik kita mantau di sumur pantau itu, perkembangannya bagaimana, dalam 10 hari, 2 minggu, akan kita uji kualitasnya terus,” katanya.
Di lahan penitipan sampah itu, sistem pengangkutan sampah akan ditata dengan SOP khusus. Sampah yang diangkut adalah yang sudah dipilah. “Jadi saya akan menetapkan nanti hari pengambilan sampah misalnya kalau senin saya hanya akan mengambil sampah organik, lalu selasa sampah anorganik,” ungkapnya.
DLH Sleman juga akan membuat Surat Edaran (SE) untuk mendetailkan gimana pemilahan sampah. “Artinya saya harus memberitahu masyarakat mana sih yang organik, jangan sampai masyarakat tidak tahu. Teh celup itu masuk organik atau anorganik? Itu masuk anorganik. Tetapi jangan basah gitu dibuang, tetapi dijemur dulu agar jadi anorganik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Mario Aji gagal finis di Moto2 Jerman 2026 usai crash di Sachsenring. Simak klasemen terbaru yang masih dipimpin Manuel Gonzalez.
Kia tarik 500 ribu SUV Telluride di AS karena sakelar kursi bisa picu kebakaran. Gagal diperbaiki dua kali, kini Kia pasang sekering elektronik.
Ada 15 jenis colokan dunia! Indonesia pakai Type C & F, Amerika Type A, Inggris Type G. Kenapa tidak diseragamkan? Simak sejarah dan faktanya di sini.
Sampah mulai mencemari kawasan Jembatan Kabanaran Kulonprogo hingga masuk saluran irigasi. DLH mengingatkan PKL dan pengunjung lebih peduli kebersihan.
Celine Evangelista mengaku telah menikah lagi dengan pria saleh. Ia beralasan mengikuti sifat taghaful dalam Islam, cukup syiarkan ke keluarga dan sahabat terde