Progres Tol Jogja-Solo 87 Persen, Akses Keluar Masuk Ditarget Agustus
Progres Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 mencapai 87%. Ramp on dan ramp off ditargetkan selesai Agustus 2026.
Seorang pemulung tengah memilah sampah di TPST Piyungan beberapa waktu lalu./Harian Jogja- Nur Uswatun Khasanah (M123)
Harianjogja.com, SLEMAN—Penyelesaian persoalan sampah dinilai harus dilakukan semua pihak. Diawali dengan pengenalan jenis-jenis sampah kepada masyarakat yang disusul dengan pembuatan peraturan yang mengatur konsep sampah berbayar.
Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, Mohammad Pramono mengatakan konsep sampah berbayar yang diusulkan yaitu jika seseorang atau keluarga ingin membuang sampahnya terlebih dahulu melakukan pemilahan mandiri. Sampah dari bahan organik dapat dikelola sendiri dengan dijadikan kompos. Sedangkan sampah plastik juga disisihkan sendiri nantinya akan ada pihak ketiga yang akan mengambil.
BACA JUGA : Rehabilitasi UPI di Kulonprogo Gunakan Danais, Segini Anggarannya
"Harapannya nanti yang diambil adalah residunya saja sehingga menjadi lebih sedikit. Namun pasti akan ada masyarakat yang mampu membayar lebih banyak dikarenakan tidak sempat mengelola sampahnya sendiri. Apabila proses Reduce, Reuse, Recycle (3R) pada sampah dilakukan dan diperketat maka masyarakat akan berhemat," ujarnya.
Metode sampah berbayar dinilai Pramono menjadi solusi untuk masalah hulu yaitu pada masyarakat. Namun, di sektor hilirnya juga harus ada teknologi yang diaplikasikan pada pengelolaan sampah di TPST Piyungan.
Bahan Bakar
Salah satu teknologi yang bisa diimplementasikan di TPST Piyungan ialah mengolah sampah menjadi bahan bakar. Pengurangan penggunaan bahan bakar batubara untuk PLTU dengan cara co-firing atau campuran bahan bakar tengah marak dilakukan.
Pramono mengungkapkan bahwa sampah diproses dengan kadar air kurang dari 20 persen maka akan menghasilkan kandungan kalori untuk bahan bakar. Caranya dengan mengolah sampah dengan cara dicacah, lalu dikompres dan diangin-anginkan kemudian dikemas untuk menjadi Refuse Derrived Fuel (RDF) atau bahan bakar.
BACA JUGA : Warga Miskin di DIY Dapat Bantuan Danais dan Kini Bisa Garap Tanah Desa
Teknologi ini menurut Pramono bisa diterapkan di TPST Piyungan. Agar, sampah yang masuk 600 ton per hari di TPST Piyungan dapat diolah menjadi bahan bakar. Pramono kembali menjelaskan bila plastik memiliki kalori untuk menggantikan fungsi batubara pada prosesnya. Tumpukan sampah yang ada di TPST Piyungan nantinya bisa ditambang sedikit demi sedikit kemudian dipilah dan diolah menjadi pupuk maupun bahan bakar. "Hal ini akan bisa memfungsikan lagi luas TPST Piyungan," tegasnya.
"Proses secara mekanistik dari sampah siap menjadi bahan bakar dihitung membutuhkan biaya berapa, sehingga nanti dapat ditentukan ongkos sampah berbayarnya menjadi berapa. Hal ini harus terintegrasi dengan pemerintah yang dilindungi dengan Perda yang kuat," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Progres Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 mencapai 87%. Ramp on dan ramp off ditargetkan selesai Agustus 2026.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.
PSEL Legok Nangka senilai Rp7,2 triliun mulai dibangun di Kabupaten Bandung. Proyek ini akan mengolah 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 40,79 M
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 30 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jam keberangkatan tiap stasiun.
Ilmuwan menemukan spesies dinosaurus baru berusia 210 juta tahun di Zimbabwe. Temuan ini membuka wawasan baru tentang evolusi dinosaurus awal di Afrika.
Myanmar mengesahkan UU Anti-Penipuan Daring yang mempercepat pembekuan rekening dan menjatuhkan hukuman hingga hukuman mati bagi pelaku.