Polda DIY Pulangkan 32 Peserta Aksi di Gedung DPRD, Ini Penjelasannya
Polda DIY memastikan 32 peserta aksi di Gedung DPRD DIY telah dipulangkan pada Rabu dini hari. Situasi Malioboro dan Titik Nol kembali normal.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN—Kampanye politik lewat baliho dinilai akan menambah sampah visual maupun produksi sampah. Politisi dirasa perlu menempuh cara lebih edukatif dan pendekatan dialog dengan masyarakat.
Dosen Sosiologi UGM, Arie Sujito menilai penggunaan baliho dalam kampanye pemilu sering kali tidak berguna. Malahan, keberadaan baliho hanya menjadi sampah visual, juga menciptakan sampah baru.
"Itu sampah visual, kita ini Jogja sudah banyak sampah. Ini nanti kalau sampah visual tambah ribut. Demokrasi jangan dikotori oleh baliho-baliho yang seringkali enggak berguna," tuturnya pada Senin (31/7/2023).
BACA JUGA: Duh! 95 Ton Sampah Jogja Masih Belum Punya Solusi
Dosen yang memiliki minat kajian sosiologi politik hingga kajian gerakan sosial tersebut juga berpandangan, pemasangan baliho menjadi potret ketidakberanian politisi untuk bertemu dengan rakyat. "Orang yang hanya menghadirkan baliho, dia sebetulnya enggak percaya diri, karena enggak mau berani ketemu rakyat," ungkapnya.
Padahal menurut Arie politisi harus berani bertemu rakyatnya. Perkara banyaknya rakyat yang harus ditemui, itu menjadi tugas tim sukses untuk meramu kampanye yang lebih jitu. "Harusnya dia harus berani ketemu rakyat, cuma masalahnya bagaimana jumlah yang banyak itu artinya tim sukses pun harus membuat kampanye yang lebih oke," ujar dia.
Di sisi lain Arie juga menyoroti pelaksanaan kampanye yang harusnya lebih mengutamakan diskusi atau dialog dengan warga. Tidak perlu digelar secara urakan. "Termasuk kampanye kampanye itu enggak pelu lah urakan yang selama ini ada. Sekarang harus lebih edukatif, lebih dialog, mendatangi ke masyarakat. Enggak perlu banyak masang baliho-baliho itu, kalau pun itu ya [masang baliho] tapi sebetulnya itu enggak penting," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY memastikan 32 peserta aksi di Gedung DPRD DIY telah dipulangkan pada Rabu dini hari. Situasi Malioboro dan Titik Nol kembali normal.
PT Mikatasa Agung menggelar kopdar Lem Rajawali bersama pengrajin sofa di Jogja untuk mempererat hubungan pelanggan dan menyerap masukan pengembangan produk.
Gunungkidul memasuki masa pancaroba. BPBD mengingatkan potensi angin kencang dan melanjutkan penyaluran bantuan air bersih hingga Desember.
Penembakan dekat Stadion Bragg Memorial di Florida menyebabkan sejumlah korban. Polisi menyelidiki insiden dan jumlah korban belum dipastikan.
Veda Pratama menghormati pembatalan Moto3 Australia 2026 akibat cuaca buruk meski telah meraih pole position di Phillip Island.
Lomba grafiti dan mural di Cangkringan menjadi wadah kreativitas pemuda Sleman sekaligus meningkatkan kesadaran mitigasi bencana Gunung Merapi.