RSPS Bantul Raih ISO 27001:2022, Perkuat Keamanan Data Pasien
Sertifikasi ISO 27001:2022 ini menjadi bukti keseriusan RSUD Panembahan Senopati Bantul dalam memberikan layanan yang aman dan profesional
Manajer PLN Bantul, Kemas Ferri Rahman (ketiga dari kanan) saat menjelaskan terkain konsep Electrifying Agricultur di di Omah Mbiyen Homstay, Sompok, Imogiri, Bantul, Minggu (20/8/2023). /Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyebut penerapan konsep Electrifying Agricultur (EA) mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan para petani dan menekan biaya operasional. Karena itu PLN terus berupaya untuk memperluas penggunaan energi listrik dalam bidang pertanian.
Manajer PLN Bantul, Kemas Ferri Rahman mengatakan sampai saat petani yang telah menggunakan listrik untuk pertanian di Bantul mencapai sekitar 1.500 petani. Sebagian besar terpusat di wilayah Kapandewon Kretek dan Sanden. Namun kini mulai berkembang di wilayah perbukitan, salah satunya wilayah Kapanewon Imogiri.
BACA JUGA : Siap-siap! Jaringan Listrik Sejumlah Titik di Bantul Padam, Cek Lokasinya di Sini
Pihaknya memprediksi petani yang menggunakan energi listrik dalam bisang pertanian akan terus bertambah dengan pengajuan pemasangan instalasi listrik di areal pertanian. Sebab manfaatnya dirasakan oleh petani karena dapat menekan biaya operasional 80-90%.
“Berdasarkan pengakuan dari petani yang sebelumnya menggunakan bahan bakar minyak untuk mengairi sawah dan beralih ke energi listrik dapat menekan 80 persen bahkan ada yang mencapai 90 persen. Demikian pula produktivitas hasil pertanian juga meningkat,” katanya dalam diskusi Peran pasar Digital dalam Industri Pariwisata Berbasis Electrifying Agricultur di Omah Mbiyen Homstay, Sompok, Imogiri, Bantul, Minggu (20/8/2023).
Menurutnya, sebagian besar petani yang menggunakan energi listrik untuk pertanian adalah irigasi dan pompa air untuk mengairi sawah. Jika menggunakan bahan bakar minyak, kata dia, sekali penyiraman membutuhkan biaya Rp20.000, namun dengan pompa air listrik bisa ditekan sampai Rp4.000.
Selain itu, kata Ferri, petani saat ini tak perlu lagi datang ke sawah untuk melakukan irigasi, sebab pompa air listrik bisa bisa diatur dengan waktu yang disesuaikan dengan keinginan petani melalui timer. Sehingga ketika waktunya penyiraman sudah langsung menyala sendiri pompa airnya.
“Tentu ini semakin memudahkan petani dan juga bisa menarik anak muda untuk menjadi petani karena tidak bertani tidak seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya.
BACA JUGA : Teknologi Makin Maju, UMKM di Sleman Diminta Segera Membuka Diri
Lebih lanjut Ferri mengatakan penerapan konsep Electrifying Agricultur akan terus digencarkan kepada para petani sampai wilayah terpencil yang terkendala dengan irigasi lahan pertanian agar dapat menekan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas. “Petani cukup membuat sumur bor dan untuk menaikkan air untuk irigasi bisa menggunakan pompa air listrik,” ucapnya.
Salah satu petani asal Dusun Sompok, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Bantul, Anton mengatakan konsep Electrifying Agricultur dari PLN baru masuk ke wilayahnya akhir Juli lalu setelah melalui pengajuan pada awal Juli. Manfaatnya sangat dirasakan sehingga tidak capek.
Sebelumnya petani yang sebagian besar menanam bawang merah dan cabai itu dulu saat mengairi sawah harus menggunakan mesin diesel yang beratnya 40 kilogram. Pengambilan air dari Sungai Oyo sejauh sekitar 150 meter. Belum lagi bongkar pasang selang. Dalam seminggu lahan pertanian harus disiram minimal tiga kali.
Kebutuhan bahan bakar bisa mencapai 12 liter bensis dalam delapan jam dan sebulan harus menyiram tanaman 12 kali. “Sekarang dengan menggunakan listrik hanya habis biaya Rp100.000. bisa hemat sampai 90 persen,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Sleman mewaspadai kekeringan 2026. Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi wilayah dengan distribusi air bersih tertinggi empat tahun terakhir.
Pemakaman Ali Khamenei resmi dimulai di Iran. Prosesi kenegaraan berlangsung sepekan hingga 9 Juli 2026 dan dihadiri delegasi dari lebih 100 negara.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Minggu 5 Juli 2026 lengkap beserta rute menuju Kota Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 per penumpang.
Normalisasi Sungai Jogja dipercepat. Pemkot menargetkan Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong rampung dalam dua tahun dengan penataan bantaran.
Tips liburan murah ke Jogja untuk backpacker, mulai transportasi, penginapan, kuliner, hingga destinasi wisata hemat dan ramah anggaran.