4.278 Anak di Sleman Tak Sekolah, Gandheng ATS Resmi Diluncurkan
Sebanyak 4.278 anak di Sleman tercatat tidak sekolah. Pemkab meluncurkan Gandheng ATS berbasis EWS untuk mendeteksi risiko putus sekolah.
Anak difabel - Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kulonprogo segera mendirikan layanan informasi ramah disabilitas bernama laku wirasa. Laku wirasa merupakan pemendekan dari layanan Kulonprogo ramah disabilitas. Program tersebut merupakan inovasi jangka pendek dan menengah sebelum menuju rehabilitasi infrastruktur fisik pariwisata di Kulonprogo.
Kepala Dispar Kulonprogo, Joko Mursito, mengatakan program tersebut akan menyasar penyandang disabilitas netra, daksa, grahita, dan rungu. Mereka akan disuguhkan fasilitas virtual reality atau VR dengan pemandu wisata tokoh wayang bernama geblek dan sengek.
Baca Juga: Didukung Dana Keistimewaan, Desa Wisata di Kulonprogo 3 Kali Raih ADWI
“Kami akan membuat virtual reality [VR] untuk dapat membawa wisatawan [difabel] berpetualang. VR itu nanti akan ada layanan petualangan yang dipandu tokoh wayang wisata, geblek dan sengek,” kata Joko ditemui di kantornya, Selasa (20/9/2023).
Dalam VR tersebut, wisatawan dapat melihat tiga tanda berupa warna merah, kuning, dan hijau. Warna tersebut akan menjadi penanda tingkat kerawanan suatu destinasi wisata.
“Dalam VR itu nanti difabel akan dipandu ke sejumlah destinasi seperti di Waduk Sermo. Nah, di Waduk Sermo itu masuk zona kuning untuk tuna netra. Maksudnya adalah penyadang disabilitas netra dapat pergi ke sana tapi harus hati-hati,” katanya.
Baca Juga: Dispar Kulonprogo Gelar Lomba Potensi Desa Wisata
Tiap warna tersebut akan menyesuaikan dengan kondisi disabilitas yang ada. Nantinya akan ada rekomendasi-rekomendasi atas penyesuaian antara kondisi disabilitas dengan warna yang muncul dalam VR.
“Nanti ada semacam zona itu atau kluster-kluster. Itu salah satu produk di VR. Program ini akan kami usahakan Perbupnya. Nah, tahun 2025 kan kami akan meninjau ulang Perda Riparda maka akan kami masukan program itu. Biar inkulsif tourism jadi bagian dari Perda Riparda,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua NPC Kulonprogo, Widi Nuryanto, mengatakan Dispar Kulonprogo pernah datang ke NPC Kulonprogo untuk mengajak membangun pariwisata ramah disabilitas.
“Pak Joko Mursito dulu pernah datang ke sekretariat bertemu teman-teman disabilitas. Dispar mengajak teman-teman yang arahnya pada pariwisata ramah disabilitas. Kalau saat ini kan pariwisata masih ada yang belum bisa diakses disabilitas,” kata Widi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 4.278 anak di Sleman tercatat tidak sekolah. Pemkab meluncurkan Gandheng ATS berbasis EWS untuk mendeteksi risiko putus sekolah.
MA mengoreksi perhitungan kerugian negara kasus korupsi timah. Dari Rp300 triliun, kerugian keuangan negara ditetapkan Rp28,9 triliun.
Pemkab Temanggung mendukung wacana guru PPPK menjadi ASN pusat. Beban APBD daerah berpotensi berkurang sekitar Rp150,5 miliar.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.
Perpres ojol masih difinalisasi Komdigi. Pemerintah menguji formula bagi hasil yang adil bagi pengemudi dan menjaga bisnis platform ride-hailing.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan kasus sabu 98 kg, di salon Mangga Besar. BNN juga menyita uang dan aset Rp39,95 miliar.