Berpakaian Adat, 1.000 Siswa Sleman Sambut Prabowo dan Narendra Modi
Sebanyak 1.000 siswa SD dan SMP di Sleman mengenakan busana adat Jawa untuk menyambut Presiden Prabowo Subianto dan PM India Narendra Modi.
Bacapres Koalisi Indonesia Maju, Prabowo Subianto menghadiri Sarapan Bareng 1000 Guru Ngaji se-DIY di Hotel Prima SR, Rabu (20/9/2023)./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Bacapres Koalisi Indonesia Maju, Prabowo Subianto mendapat curhatan guru mengaji soal lima hari sekolah yang membuat anak-anak didik mereka tidak bisa mengikuti kegiatan TPA/TPQ.
Curhatan tersebut disampaikan oleh salah satu peserta Sarapan Bareng 1000 Guru Ngaji se-DIY di Hotel Prima SR, Rabu (20/9/2023). "Anak sekolah sampai setengah empat, jam tiga. Madrasah-madrasah yang dimulai jam satu, TPA yang dimulai jam tiga sekarang habis tidak ada muridnya," kata peserta tersebut.
"Alasannya karena ada tugas dari sekolah dan sekokah pulangnya sudah sore."
Peserta tersebut melanjutkan, guru mengaji mengajar secara sukarela dan kerja keras. Namun, kini madrasah atau TPA tempat anak belajar agama justru tidak ada muridnya. "Kami sebagai guru-guru mengaji yang peduli dan ikhlas lillahi ta'ala tanpa pamrih, tanpa peduli apapun, tanpa bayaran apapun, tetapi sekarang ini sudah kami kerja keras dengan keikhlasan, yang mengaji malah tidak ada," ungkapnya.
Lantas guru mengaji tersebut bertanya kepada Prabowo, apa yang bakal ia lakukan untuk mengatasi persoalan ini. "Apa yang Anda kerjakan nanti, nyuwun sewu pak Prabowo ketika menjadi Presiden," tanyanya.
BACA JUGA: Ditanya Apakah SBY Bakal Jadi Tim Pemenangan, Prabowo : Ngarang Aja, Beliau Senior
Curhatan guru mengaji ini pun lantas ditanggapi oleh Prabowo. Dampak dari lima hari sekolah ini, dinilai perlu didiskusikan. "Saya kira ini catatan yang bagi kami nanti perlu didiskusikan. Memang kadang-kadang kita melihat satu tujuan tidak melihat dampaknya kepada yang lain," kata pria yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan tersebut.
Prabowo juga mengungkapkan ide soal kemungkinan hari-hari tertentu yang diwajibkan untuk pendidikan agama. "Nanti kita cara jalannya, apakah nanti mungkin ada kerja sama, umpamanya khusus untuk sekolah-sekolah agama dibikin saja, bisa juga bikin program, mungkin program wajib. Mungkin pada hari-hari tertentu ya wajib aja pendidikan agama dan lain sebagainya," ungkapnya.
Selain itu Ketua Umum Partai Gerindra tersebut juga menyinggung soal strategi twining sekolah. Langkah ini membuat sekolah memiliki ikatan kerja sama dengan madrasah atau sekolah agama.
"Bisa kita lakukan nanti, apakah mungkin twining, sekolah A harus ada ikatan kerja sama dengan madrasah, dengan sekolah-sekolah agama sehingga nanti ya dibikin program. Ada sekian jam dia wajib ke sekolah itu yang tidak berjauhan," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 1.000 siswa SD dan SMP di Sleman mengenakan busana adat Jawa untuk menyambut Presiden Prabowo Subianto dan PM India Narendra Modi.
KH Zulfa Mustofa siap maju sebagai calon Ketua Umum PBNU jika mendapat amanah dari PWNU dan PCNU menjelang Muktamar NU ke-35.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 12 Juli 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Simak jam keberangkatan dan tarif tetap Rp8.000.
Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan kusta bukan kutukan dan mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap penyintas melalui deteksi dini.
Polri melimpahkan kasus dugaan korupsi dan TPPU Febrie Adriansyah ke Kejaksaan Agung. DPR memastikan proses hukum dikawal hingga tuntas.
Kemensos terus mendampingi anak di Sukabumi yang kerap mencium bau BBM. Asesmen menunjukkan perkembangan perilaku, tetapi pendampingan berlanjut.