Porsche Pangkas 9.000 Karyawan hingga 2035, China Jadi Biang Kerok
Porsche akan memangkas sekitar 9.000 tenaga kerja hingga 2035 sebagai bagian restrukturisasi di tengah penurunan penjualan di China dan melambatnya pasar kendar
Kekeringan - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman mengintensifkan penyiraman pohon dan tanaman di ruang terbuka hijau menyusul belum turunnya hujan di musim kemarau pada beberapa bulan terakhir. Pada sisi lain Dinas Kesehatan setempat menyebut banyak keluhan masyarakat terkait gangguan pernafasan selama musim kemarau ini.
Pengintensifan penyiraman ini dilakukan selain untuk keberlangsungan tanaman, sekaligus menekan penyebaran debu yang tertiup angin.
Sub Koordinator Kelompok Substansi Pengelolaan Taman dan Ruang Terbuka Hijau DLH Sleman, Andri Harsoyo mengatakan belum turunnya hujan dalam beberapa bulan terakhir telah membuat pihaknya mengintensifkan penyiraman. Tidak hanya tanaman di ruang terbuka hijau, penyiraman juga dilakukan untuk sejumlah pohon perindang di jalan berstatus jalan kabupaten.
"Kami intensifkan penyiraman.Jika sebelumnya kami lakukan penyiraman sekali sehari, karena kondisi musim kemarau dan sudah lama tidak ada hujan, maka sekarang dalam sehari kami lakukan penyiraman dua kali," katanya, Jumat (22/9/2023).
Menurut Andri, pihaknya saat ini memaksimalkan keberadaan mobil tangki air dengan kapasitas 3.000 liter per hari untuk menyirami tanaman dan pohon perindang di beberapa titik di Sleman. Upaya ini dilakukan selain untuk keberlangsungan tanaman, sekaligus menekan penyebaran debu yang tertiup angin.
"Dan, ini rutin kami lakukan. Apalagi saat ini musim kemarau," imbuhnya.
BACA JUGA:Dampak Kemarau Kian Parah, Sungai Oya di Gunungkidul Kering Kerontang
Gangguan Pernapasan
Disisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyebut ganguan pernafasan cukup banyak dikeluhkan oleh masyarakat pada musim kemarau saat ini.
Kondisi udara yang kering ditambah keberadaan debu membuat persoalan gangguan pernafasan tidak bisa dihindari.
"Kondisinya memang seperti itu. Banyak keluhan batuk dan pilek karena banyak debu," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Esti Kurniasih.
Esti juga menyebut jika sudah banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan masker juga berdampak pada masifnya penyebaran jenis penyakit tersebut.
Sebab dengan tidak terlindunginya sistem pernafasan seperti hidung dan mulut, membuat virus penyakit semakin mudah ditularkan antar manusia.
"Untuk itu kami imbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker. Agar debu tidak mudah masuk dan berdampak kepada gangguan pernapasan,"ucapnya.
BACA JUGA:Musim Kemarau Dinkes Bantul Ingatkan Mewaspadai Penyakit Saluran Pernapasan
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengungkapkan, musim kemarau tahun ini diprediksi bisa lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Wilayah DIY diprediksi baru akan memasuki musim penghujan pada bulan Oktober mendatang.
"Untuk itu kami minta masyarakat mewaspadai potensi angin kencang, utamanya untuk kawasan pesisir selatan," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Porsche akan memangkas sekitar 9.000 tenaga kerja hingga 2035 sebagai bagian restrukturisasi di tengah penurunan penjualan di China dan melambatnya pasar kendar
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.