Lowongan Pekerjaan: Gunungkidul Ajukan 370 Formasi Pegawai, Ini Rinciannya
Pemkab Gunungkidul mengajukan 370 formasi pegawai 2026, terdiri dari 335 CPNS dan 35 PPPK, tetapi masih menunggu persetujuan pusat.
Petugas Polsek Tepus saat melihat kondisi kambing milik warga yang mati karena serangan hewan liar di Kalurahan Tepus, Tepus, Rabu (2/9/2026).Istimewa-Dok. Polsek Tepus\r\n\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tujuh kambing milik warga Padukuhan Tepus 1, Tepus, Kapanewon Tepus, mati setelah diduga diserang kawanan hewan liar. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu (2/9/2026) pagi ketika warga hendak menggembalakan kambing di sekitar kandang yang berada jauh dari permukiman.
Kapolsek Tepus, AKP Suryanto mengatakan serangan terhadap kambing warga diketahui saat warga hendak melepasliarkan ternak di sekitar kandang yang berlokasi di Alas Dawut, kawasan Pantai Poktunggal, Padukuhan Tepus 2, Tepus.
Namun, sesampainya di lokasi, kondisi kandang sudah dalam keadaan rusak. Setelah diperiksa, ditemukan tujuh ekor kambing mati dengan luka bekas gigitan.
Tujuh Kambing Mati, Dua Anakan Dimakan
Suryanto menjelaskan tujuh kambing tersebut terdiri dari dua indukan dan lima anakan. Tiga anakan mati dengan luka gigitan di bagian kaki dan leher, sedangkan dua anakan lainnya habis dimakan hingga hanya menyisakan bagian kulit.
“Diketahui kambing-kambing ini dimiliki Eno, wargda di Padukuhan Tepus 1,” kata Suryanto kepada wartawan, Rabu siang.
Pihak kepolisian telah mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Suryanto berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bersama agar serangan serupa tidak kembali terjadi.
“Diduga diserang oleh gerombolan hewan liar yang mencari makan. Di musim kemarau stok pakan berkurang sehingga melakukan penyerangan terhadap ternak milik warga,” katanya.
Warga Diminta Waspadai Serangan Hewan Liar
Lurah Tepus, Hendro Pratopo membenarkan adanya serangan hewan misterius yang menyebabkan tujuh kambing milik warga di Padukuhan Tepus 1 mati.
Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan kawanan hewan liar yang melakukan penyerangan. Tidak ada warga yang melihat langsung kejadian tersebut.
“Dimungkinkan diserang oleh kawanan hewan liar yang mencari pangan,” katanya.
Untuk mencegah kejadian serupa, Topo mengimbau pemilik ternak memindahkan lokasi kandang lebih dekat dengan permukiman. Selama ini, banyak warga memilih memelihara ternak di tengah hutan atau ladang karena dianggap memudahkan dalam mencari pakan.
Kandang di Tengah Ladang Dinilai Rawan
Menurut Topo, kebiasaan memelihara ternak di tengah hutan atau ladang memiliki risiko karena pengawasan menjadi lebih sulit dibandingkan jika kandang berada di dekat rumah.
“Kami imbau agar lokasi kandang dipindah ke rumah sehingga mudah dilakukan pengawasan. Jangan sampai ternak yang dipelihara menjadi korban serangan hewan liar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengajukan 370 formasi pegawai 2026, terdiri dari 335 CPNS dan 35 PPPK, tetapi masih menunggu persetujuan pusat.
BNPB telah memverifikasi 51.591 rumah terdampak gempa M7,7 Flores. Sebanyak 2.382 rumah tercatat rusak berat.
Aldila Sutjiadi dan Erin Routliffe melaju ke perempat final US Open 2026 setelah menang tiga set atas Bondar/Kalinina.
Sebanyak 3.283 warga Surabaya mengeluhkan desil DTSEN. Pemutakhiran data menjadi kunci agar bantuan pemerintah tepat sasaran.
Gunung Anak Krakatau hari ini masih Level III Siaga. Aktivitas tercatat memicu gempa letusan, low frequency, hybrid, dan tremor menerus.
Inter Milan berambisi menjuarai Liga Champions, tetapi Lautaro Martinez menegaskan trofi tersebut bukan obsesi Nerazzurri.