PMI Gunungkidul Siapkan Donor Darah Mobile Jaga Ketersediaan Stok
PMI Gunungkidul memastikan stok darah aman dan menyiapkan donor darah mobile hingga akhir Agustus untuk menjaga ketersediaan darah.
Kondisi kedung di salah satu aliran Kali Oya yang mengering di Dusun Keringan Kidul, Bulurejo, Semin. Selasa (19/9/2023). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim kemarau tidak hanya berdampak terhadap berkurangnya stok air bersih yang dimiliki warga. Namun, juga berdampak terhadap debit air di aliran Kali Oya di Gunungkidul.
Kali ini merupakan sungai terbesar di Gunungkidul. Alirannya membentang dari perbukitan Gunung Gajah Mungkur di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah kemudian membelah dari Kapanewon Semin, Ngawen, Nglipar, Patuk, Playen hingga bermuara di wilayah Bantul.
Di musim kemarau, debit air di Kali Oya menyusut drastis. Bahkan di bantaran kali di Dusun Keringan Kidul, Bulurejo, Semin sampai mengering tidak ada airnya.
BACA JUGA : Dampak Kemarau Panjang, 33 Kecamatan di DIY Berpotensi Kesulitan Air Bersih
Kepala Dusun Keringan Kidul, Bigmen Pangestu mengatakan, fenomena aliran Kali Oya di wilayahnya mengering saat kemarau bukan hal yang baru. Pasalnya, kondisi ini terjadi hampir terjadi setiap tahunnya.
“Kalau musim kemarau, alirannya berhenti. Bahkan ada yang benar-benar mengering dan tinggal menyisakan kubangan-kubangan kecil,” kata Bigmen, Selasa (19/9/2023).
Dia menjelaskan, ada beberapa penyebab membuat aliran Kali Oya di wilayahnya mengering. Faktor pertama di sekitar aliran tidak ada sumber yang besar sehingga saat kemarau berpengaruh terhadap debit yang menyusut secara drastic.
Di sisi lain, di sepanjang aliran ada beberapa kedung dengan debit air yang banyak. Namun, keberadaan kedung dimanfaatkan warga untuk pemeliharaan pertanian seperti jagung, kacang, kedelai dan lain sebagainya.
“Jadi air di kedung disedot kemudian dialirkan ke ladang atau sawah untuk merawat tanaman milik petani,” katanya.
Menurut Bigmen, mengeringnya Kali Oya hanya sementara karena saat penghujan akan Kembali mengalir. “Ya kalau hujan nanti airnya naik lagi,” katanya.
Salah seorang warga Keringan Kidul, Suparno mengatakan, mengeringnya Kali Oya tidak berpengaruh terhadap kebutuhan air untuk warga. Menurut dia, kebutuhan masih bisa terpenuhi karena sumur-sumur yang dimiliki tidak sampai mengering.
BACA JUGA : Antisipasi Dampak Kemarau di Sektor Peternakan dan Perikanan, Ini Langkah DP3 Sleman
“Untuk kebutuhan sehari-hari memang tidak masalah. Tapi, untuk Bertani banyak yang menyedot air di Kali Oya agar tanaman bisa tetap hidup,” katanya.
Suparno berharap agar musim kemarau segera berlalu sehingga kebutuhan air di Masyarakat bisa tetap terjaga. “Mudah-mudahan bisa segera hujan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PMI Gunungkidul memastikan stok darah aman dan menyiapkan donor darah mobile hingga akhir Agustus untuk menjaga ketersediaan darah.
Jadwal KRL Solo Jogja terbaru hari ini Rabu 29 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.
AS melarang impor robot humanoid dan inverter baru asal Tiongkok demi melindungi keamanan nasional serta infrastruktur AI domestik.
Jadwal salat Jogja Rabu 29 Juli 2026 untuk Kota Jogja, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul berdasarkan Kemenag.
Kasus ISPA di Bantul masih mencapai ribuan hingga Juni 2026. Dinkes mengimbau warga menerapkan PHBS dan memakai masker saat musim kemarau.
Sosiolog UGM menilai dugaan siswa membawa bom rakitan ke sekolah menjadi alarm bagi sistem pendidikan dan pentingnya budaya dialog dengan anak.