Perketat Pengawasan Hewan Kurban, Gunungkidul Kerahkan 120 Petugas
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
Ilustrasi keracunan/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Girisubo terus memantauan Kesehatan terhadap warga Kalurahan Jerukwudel yang mengalami gejala mirip keracunan makanan. Adapun kepastian penyebab kematian NAA,10, masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel yang telah diambil.
Kepala Puskesmas Girisubo, Pujianta mengatakan, total ada 20 warga yang mengalami gejala mirip keracunan seperti mual-mual, pusing, muntah hingga diare. Adapun rata-rata usia 30-40 tahun, namun ada satu korban berusia sepuluh tahun dan dinyatakan meninggal dunia.
BACA JUGA : Diduga Akibat Keracunan Massal, Seorang Anak di Girisubo Gunungkidul Meninggal Dunia
Dia menjelaskan, dari hasil pemantauan terkini untuk belasan korban kondisinya telah membaik. Pasca adanya kasus kematian, juga sudah memeriksa ke lapangan dan mendapati ada delapan warga yang membutuhkan pengobatan rawat jalan.
“Terus dipantau dan kondisinya sudah membaik dikarenakan gejalanya termasuk ringan,” kata Puji, Jumat (22/9/2023).
Meski demikian, untuk kasus kematian terhadap NAA, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Guna kepastian sudah mengambil sampel dari sisa masakan untuk dicek di laboratorium Kesehatan.
“Untuk hasil, paling lama bisa mencapai 12 hari. Yang jelas, dari tes ini akan diketahui pasti penyebab pasti kematian korban,” ujar Puji.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. Menurut dia, sudah mendapatkan laporan dan uji sampel untuk diteliti di laboratorium terkait dengan penyebab kematian.
“Sudah dikirim ke lab di Kota Jogja. Untuk hasilnya, kami masih menunggu,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Keracunan massal diduga terjadi di Kalurahan Jeruwudel, Girisubo. Akibatnya seorang anak dilaporkan meninggal dunia dan belasan orang lainnya mengalami mual-mual, muntah hingga diare.
Panewu Girisubo, Slamet Winarno mengatakan, dugaan keracunan massal ini bermula adanya acara di Balai Kalurahan Jerukwudel, Selasa (19/9/2023). Peserta yang datang diberikan nasi. Sore harinya, korban berinisial NAA,10 mengkonsumsi makanan tersebut.
“Pada malamnya korban mengalami muntah-muntah,” kata Slamet saat dihubungi wartawan, Kamis (21/9/2023) malam.
BACA JUGA : Puluhan Maba UPN Jogja Keracunan Massal
Meski mengalami gejala muntah-muntah, korban baru dibawa ke puskesmas untuk periksa pada Rabu (20/9/2023). Hasil pemeriksaan medis, NAA dirujuk ke rumah sakit terdekat di Kecamatan Pracimantoro.
Nahasnya, belum sampai di tempat rujukan, korban sudah dinyatakan meninggal dunia pada saat di perjalanan. “Meninggal dunia diduga karena keracunan. Selain itu, ada 19 warga yang mengalami gejala muntah-muntah, pusing hingga diare,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
Cuaca panas bisa memengaruhi baterai mobil listrik. Simak 6 cara menjaga baterai EV tetap awet dan efisien saat suhu ekstrem.
Pemkab Kulon Progo berkomitmen selalu proaktif dalam penyelesaian terkait kepentingan masyarakat tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-kehatian
Alex Rins mengaku syok melihat kecelakaan horor Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026 hingga jantungnya seperti berhenti berdetak.
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.