Lumbung Mataram Kalurahan Purwosari di Kulonprogo Mengoptimalkan Pertanian dan Peternakan Warga
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Mobil laboratorium lingkungan hidup milik DLH Jogja yang digunakan untuk mengukur kualitas udara./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Kualitas udara di Jogja mengalami penurunan akibat adanya partikel debu atau P2,5. Angka partikel debu di Kota Jogja ini di atas 50 dari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di mana masuk kategori sedang.
Padahal, sebelum Agustus, partikel debu di Jogja masuk kategori baik di mana angkanya kurang dari 50 ISPU.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jogja menjelaskan penyebab utama peningkatan polusi partikel debu ini karena musim kemarau berkepanjangan.
Perhitungan DLH dengan Air Quality Monitoring System (AQMS) juga menunjukkan parameter lain kualitas udara. Untuk parameter gas yang meliputi ozon, nitrogen dioksida, hingga sulfur dioksida masih dalam kategori baik. Sedangkan parameter meteorologis seperti tekanan udara, kelembaban, hingga suhu juga dalam kondisi baik.
Perhitungan terbaru DLH Jogja dilakukan menggunakan mobil laboratorium kualitas lingkungan di empat titik yaitu Jl. Kemasan, Jl Cendana, Tamansari, dan Tugu juga masih menunggu hasil. “Kemungkinan akan lebih mirip hasilnya, memang kalau partikel debu P2,5 ini terjadi peningkatan yang menurunkan kualitas udara di Kota Jogja,” jelas Analis Kebijakan DLH Kota Jogja, Intan Dewani, Selasa (26/9/2023).
BACA JUGA: Polusi Udara Jadi Faktor Risiko Peningkatan Kasus Pneumonia
Intan menjelaskan selain faktor cuaca, peningkatan partikel debu juga disebabkan oleh sektor transportasi dan industri. “Karena memang kalau kendaraan itu juga mengeluarkan partikel pencemar udara juga tapi tetap faktor utamanya cuaca yang masuk musim kemarau,” paparnya.
DLH Jogja, jelas Intan, akan terus menggencarkan pemantauan dan pengukuran kualitas udara agar dapat menentukan langkah-langkah mitigasi. “Sebelumnya ada AQMS yang itu real time pengukurannya tpai jaraknya hanya terbatas lima kilometer saja, sekarang sudah ada mobil laboratorium lingkungan ini sehingga dapat lebih luas jangkauan pantauan dan pengukurannya,” terangnya.
Perluasan jangkauan pengukuran kualitas udara diperlukan, jelas Intan, karena tiap titik bisa berbeda-beda kualitas udaranya. “Semakin komprehensif pengukurannya semakin banyak pilihan langkah yang efektif untuk melakukan mitigasi,” ujarnya.
Mitigas kualitas udara di Jogja, lanjut Intan, bisa dilakukan dengan beragam cara. “Tergantung parameter apa yang memburuk kualitasnya, lalu disebabkan oleh apa. Kalau dengan kondisi sekarang karena cuaca, tentu tidak banyak yang bisa dilakukan, tapi menjaga kendaraan agar tidak banyak mengeluarkan emisi juga penting dilakukan,” ungkapnya.
Menurunnya kualitas udara di Jogja juga menyebabkan peningkatan pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data Dinas Kesehatan mencatat terjadi lonjakan peningkatan pasien ISPA sebanyak 40% selama Agustus dan September.
Dinkes Jogja menyebut penyebab peningkatan ini karena musim kemarau berkepanjangan yang berdampak langsung ke kesehatan masyarakat. Untuk mengantisipasinya, Dinkes meminta masyarakat mulai menggunakan masker dan menjaga stamina tubuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.
BPBD Temanggung memetakan 12 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026 dan menyiapkan distribusi air bersih.