Libur Lebaran Restoran di Kulonprogo Sempat Penuh, Tak Seramai Tahun Lalu
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Alat pencacah sampah organik yang diterima Kampung Wisata Kali Gajah Wong dari Universitas Sanata Dharma dijajal oleh Suwarto (kiri), Rabu (27/9/2023). Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Kampung Wisata Kali Gajah Wong, Kelurahan Giwangan telah mandiri mengelola sampah sejak beberapa tahun terakhir. Terbaru, kampung wisata ini mendapat bantuan fasilitas alat pengelola sampah dari Universitas Sanata Dharma.
Universitas Sanatha Dharma memberikan dua alat, masing-masing alat pencacah sampah organik dan oven pemanas. Dua alat tersebut sesuai dengan kebutuhan Kampung Wisata Kali Gajah Wong yang unggul dalam mengelola sampah organik dengan model maggot.
Ketua Kampung Wisata Kali Gajah Wong Suwarto menjelaskan alat pencacah digunakan untuk menghaluskan sampah organik agar efektif dimakan maggot. “Karena selama ini secara manual kurang lembut sehingga maggot sendiri tak bisa mencernanya sehingga kadang ada sisanya yang tak termakan, sekarang dengan alat ini sampah organik halus seperti bubur itu jadi habis dimakan magut,” paparnya, Jumat (29/9/2023).
Sedangkan oven pemanas digunakan untuk meningkatkan nilai jual maggot, dimana magot yang dikeringkan dengan maggot harganya bisa sampai Rp90.000 per kilogramnya. “Kalau maggot basah itu cuma Rp15.000 per kilogramnya, maka dengan oven ini harga jualnya dapat tinggi dan dapat jadi tambahan masukan bagi kami,” jelas Suwarto.
Baca Juga: Kuota Sampah yang Dibuang ke TPA Piyungan Bakal Ditambah
Suwarto menyebut sampah yang dikelola kampung wisatanya tidak hanya sampah dari wisatawan dan warga kampung tersebut, tapi juga sampah yang ada di Kali Gajah Wong. “Sejak TPA Piyungan ditutup itu sampah di kampung kami tambah banyak, kami cek ternyata banyak yang dari aliran sungai yang kami bersihkan, ini tentu merugikan bagi wisata kami,” terangnya.
Penambahan sampah di Kali Gajah Wong jika tak tertangani menyebabkan penurunan kunjungan Bendungan Lapen dan Dermaga Cinta yang dikelola kampung wisata ini. “Mau tidak mau kami jadinya yang kelola, karena TPA Piyungan juga tutup tidak bisa dibuang kemana-mana lagi, dibiarkan juga mengganggu wisata. Maka kami kelola dengan maggot dan model lain seperti kompos, losida, dan lainnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Sejumlah Depo di Jogja Penuh, 40 Ton Sampah Tidak Terkelola
Pengelolaan sampah di Kampung Wisata Kali Gajah Wong bahkan jadi nilai tambah tersendiri, lantaran ada paket baru edukasi pengelolaan sampah. “Sampah ini kan bencana, kami kelola agar jadi berkah, ternyata bisa. Kami jadi punya alternatif wisata baru, yaitu edukasi kelola sampah, lumayan juga peminatnya,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Satpol PP Solo meminta pedagang olahan daging anjing beralih usaha sesuai Perda Tertib Pangan Kota Solo 2025.