LBC Hotels Group Satukan Pelaku Pariwisata dan Corporate
LBC Hotels Group, yang menaungi 9 unit hotel dan 2 resort ternama di Yogyakarta, kembali menggelar Table Top & Business Gathering #2
Suasana di Sentra Gudeg Wijilan, Panembahan, Kraton, Kota Jogja, beberapa waktu lalu. /Istimewa.
JOGJA—Embrio Sentra Gudeg Wijilan sudah ada sejak tahun 1942. Perkembangan zaman memunculkan berbagai inovasi, salah satunya gudeg kemasan kaleng.
Sekitar tahun 1942, banyak pedagang gudeg yang tersebar di berbagai titik di Jogja. Bu Slamet salah satunya. Dia memilih Wijilan sebagai tempat berdagang. Kala itu, cara berdagang masih dengan menggelar semacam lapak, belum memakai toko berupa bangunan permanen.
Kira-kira sepuluh tahun kemudian, Bu Djuwariah alias Yu Djum meramaikan penjualan gudeg di Wijilan. Dengan konsep yang sama, Yu Djum membawa dagangan dari rumah dan menggelarnya di Wijilan. Setelah berdagang, dia akan kembali ke rumahnya. Pola yang sama terjadi terus-menerus. Seperti kemunculan gudeg Campur Sari sampai pada era 1990-an Gudeg Bu Lies.
BACA JUGA : Dinas Kebudayaan DIY Memugar Ikon Kawasan Sumbu Filosofi
Ada yang tutup, namun banyak juga yang bertahan. Perjalanan penjualan gudeg membuat para pedagang ini membeli tempat tinggal ataupun ruko di sekitar Wijilan. Banyak pedagang gudeg membuat tempat yang berada di sebelah Timur dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini sebagai Sentra Gudeg Wijilan. Sebanyak 15 pedagang gudeg kini tergabung dalam Paguyuban Usaha Kecil Menengah (UKM) Wijilan.
Ketua Paguyuban UKM Wijilan, Chandra Setiawan Kusuma, mengatakan apabila gudeg di Wijilan khas dengan bahan gori atau nangka muda. Hal ini tidak terlepas dari sejarah panjang apabila di sekitar Jogja, dahulu banyak tumbuhan nangka. “Gori mudah didapat waktu itu. Di Gunungkidul banyak tela, ya tela dijadikan gudeg khas Gunungkidul, di Bantul banyak manggar, ya pakai bahan yang memudahkan. Proses sama [cuman] bahannya yang beda,” kata Chandra.
Dalam seporsi gudeg di sekitar Wijilan, umumnya berisi bahan-bahan seperti nangka muda, sambal goreng krecek pedas, kuah areh, dan santan. Untuk lauknya seperti tahu, tempe, ayam kampung, sampai telur bebek. Pengolahan tahu dan tempe hanya memerlukan waktu sekitar dua jam. Namun proses untuk membuat gudeg dan lauk lainnya bisa lebih lama. Tergantung porsi masakan kala itu. Ada proses dari mentah kemudian dibacem, ditiriskan, digongso, dibumbui, dan dikukus.
Gudeg yang ada di berbagai tempat di Jogja, termasuk juga luar Jogja seperti Solo, memiliki kekhasan masing-masing. Gudeg Jogja, terutama di Sentra Gudeg Wijilan, biasanya tidak mengandung kuah. Kreceknya juga kering karena dimasak sampai benar-benar matang. Sehingga krecek bisa tahan lama hingga 24 jam. Lauknya juga terkenal dengan ayam kampung dan telur bebek.
Seiring dengan berjalannya waktu, Sentra Gudeg Wijilan semakin ramai. Kemudian ada permintaan gudeg sebagai bahan oleh-oleh wisata. Dalam kondisi normal, gudeg dengan kemasan besek atau kendhil hanya mampu bertahan sehari. Sementara perjalanan wisatawan kembali ke kota asal bisa sampai berhari-hari. Tidak jarang pula ada yang ingin membawanya ke luar negeri.
Berdasarkan kebutuhan ini, Paguyuban UKM Wijilan berinovasi dengan membuat gudeg kemasan kaleng. “Mulai tahun 2013, kami mulai inovasi dengan bentuk kemasan kaleng. Dengan kemasan kaleng, daya tahan masa simpan bisa setahun lebih, bisa dibawa kemanapun,” katanya.
Dengan inovasi ini, wisatawan bisa membawa makanan yang sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari Kemendikbud tahun 2015 ini, ke daerahnya masing-masing. Dengan membawa oleh-oleh gudeg, seakan masyarakat bisa membawa nuansa Jogja kemanapun dia pergi.
Asal-Usul Nama Gudeg
Ada berbagai versi penamaan makanan tradisional gudeg. Salah satu sumber menuliskan apabila gudeg sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Islam di abad ke-16. Kala itu, prajurit kerajaan membuka hutan yang berada di sekitar Kotagede untuk pembangunan kerajaan. Di hutan terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.
Banyaknya prajurit yang bekerja, kemudian juga membutuhkan logistik yang besar. Dengan memanfaatkan bahan yang ada, mereka mengolah nangka dan kelapa. Proses memasaknya disebut hangudek artinya mengaduk. Dari proses itu, kemudian muncul istilah gudeg.
Sementara ada pula versi lain. Dalam buku Indonesia Poenja Tjerita (2016), cerita penamaan gudeg berasal dari zaman penjajahan Inggris. Ada seorang warga negara Inggris yang menikah dengan perempuan Jawa dan menetap di Jogja. Dalam kesehariannya, orang Inggris memanggil istrinya dengan sebutan ‘dek’.
BACA JUGA : UNESCO Kunjungi Makam Raja di Imogiri, BPKSF Optimistis Dapat Predikat Warisan Dunia
Pada suatu hari, istri membuat masakan dengan resep turun-temurun keluarga, dengan bahan dasar berupa nangka muda. Saat suami memakan makanan itu, dia merasa makanan buatan istrinya enak. “Good, dek. It's good, dek," kata si suami.
Kemudian istri bercerita ke tetangga dan teman-temannya tentang kejadian itu. Respon “good, dek" kemudian dianggap sebagai akar nama dari ‘gudeg’. Ada pula versi-versi lain yang kemudian beredar. Apapun asal-usul namanya, sebagai masyarakat yang mewarisi masakan yang sudah berumur ratusan tahun ini, tugas kita adalah melestarikan dan menghayati nilai-nilainya. (BPKSF)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
LBC Hotels Group, yang menaungi 9 unit hotel dan 2 resort ternama di Yogyakarta, kembali menggelar Table Top & Business Gathering #2
Prabowo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski kurs dolar dan ekonomi global bergejolak.
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.