11 Bayi Dievakuasi dari Rumah di Pakem, Diduga Titipan Mahasiswi
Evakuasi 11 bayi di Pakem Sleman diduga titipan mahasiswi ke bidan tanpa izin daycare resmi.
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Sidang kasus dugaan kekerasaan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa seorang dokter gigi di Kulonprogo memasuki babak baru. Pada persidangan Rabu (11/10/2023) di Pengadilan Negeri (PN) Wates, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Evi Nurul Hidayati menuntut terdakwa, MAA dengan hukuman 6 bulan penjara.
Juru Bicara PN Wates, Setyorini Wulandari, mengatakan bahwa jaksa menjerat MAA dengan dakwaan primer Pasal 44 Ayat 1 Undang-Undang (UU) RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Bunyi Pasal 44 Ayat 1 tersebut yaitu setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp15 Juta.
"Dakwaan primernya Pasal 44 Ayat 1 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan KDRT, dengan tuntutan pidana penjara selama enam bulan," kata Wulandari dihubungi, Kamis (12/10/2023).
BACA JUGA: Kebakaran Hutan dan Lahan, 171 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan Timur
Terkait dengan putusan Majelis Hakim, tidak ada larangan menjatuhkan putusan di atas tuntutan JPU. Katanya, hal yang tidak boleh dilakukan adalah menjatuhkan putusan di atas atau melebihi ancaman pidana yang sudah diatur dalam Pasal 44 Ayat 1 UU 23 Tahun 2004 tersebut.
Sementara itu, Kadiv Humas Jogja Police Watch (JPW), Baharuddin Kamba, mengatakan tuntutan terhadap terdakwa KDRT MAA terkesan terlalu minimalis. Pasalnya dengan tuntutan JPU yakni 6 bulan maka peluang bagi terdakwa untuk tetap menjadi PNS terbuka lebar. Oleh sebab itu, JPW berharap kepada majelis hakim untuk menjatuhkan vonis yang lebih tinggi dari tuntutan JPU.
Selain itu, JPW juga meminta kepada Asisten Pengawas (Aswas) Kejati DIY untuk melakukan evaluasi terhadap tuntutan JPU yang terkesan minimalis.
"Periksa JPU nya apakah ada pelanggaran atau tidak. Jika perlu Komisi Kejaksaan [Komjak] RI turun ke Kejaksaan Negeri [Kejari] Kulonprogo/Kejari Wates atas tuntutan JPU yang terkesan minimalis ini. Jika ada pelanggaran atas tuntutan minimalis JPU dalam perkara KDRT, maka sanksi tegas harus diterapkan," katanya.
Sebelumnya diberitakan bahwa seorang dokter Puskesmas Kokap II, MAA melakukan KDRT terhadap istrinya, TA pada tanggal (9/5/2023) di sebuah rumah di Pengasih. TA memergoki MAA bersama seorang perempuan berinisial LY. Di situ, MAA melakukan KDRT terhadap TA. TA akhirnya melaporkan tindakan MAA ke Polsek Pengasih pada tanggal (10/5/2023). MAA kemudian ditetapkan sebagai terdakwa atas dugaan KDRT.
Anehnya, TA justru juga ditetapkan sebagai terdakwa atas dugaan penganiayaan terhadap LY. Ternyata, LY diam-diam melaporkan TA ke Polsek Pengasih pada tanggal (14/6/2023). Saat ini, TA masih menjalani persidangan secara daring atau online dari Lapas Perempuan Kelas II B Wonosari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Evakuasi 11 bayi di Pakem Sleman diduga titipan mahasiswi ke bidan tanpa izin daycare resmi.
Meta memakai AI untuk mendeteksi akun anak di bawah 13 tahun di Facebook dan Instagram tanpa verifikasi dokumen.
Jakarta Garuda Jaya menghadapi Foolad Sirjan Iranian pada perempat final AVC Champions League 2026 Putra malam ini di Pontianak.
Amerika Serikat membebaskan deposit visa bagi sebagian penonton Piala Dunia 2026 dari negara tertentu pemegang tiket resmi.
Meta menguji fitur Meta AI di Threads yang memungkinkan pengguna bertanya langsung soal tren dan berita viral seperti Grok di X.
Polisi mengungkap identitas salah satu kerangka manusia yang ditemukan di Sungai Bedog Bantul, korban diketahui bernama Sumadi.