Penjualan Motor Listrik di Jogja Naik, Sleman Jadi Pasar Terbesar
Pasar motor listrik di Jogja terus tumbuh. Indomobil eMotor menyebut Sleman menjadi pasar terbesar dengan penjualan menjanjikan.
Sri Sultan HB X/Antara-Andreas Fitri Atmoko
Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY mewaspadai kenaikan inflasi jelang akhir tahun bertepatan dengan masuknya musim libur panjang dan peringatan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Sejumlah instansi terkait diminta untuk berkoordinasi demi mengendalikan inflasi pangan yang diproyeksikan tetap di angka dua sampai empat persen.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, pengendalian pola tanaman pangan yang punya harga jual relatif tinggi perlu diatur sedemikian rupa agar inflasi pangan tetap terjaga. Komoditas seperti cabai rawit, cabai keriting, brambang, beras dan lain sebagainya belakangan jadi kebutuhan industri yang penting untuk dipenuhi.
BACA JUGA : BI DIY: Awas! Inflasi Berpotensi Meningkat Jelang Nataru Tahun Ini
“Kita bisa mengatur pola tanam pada bahan pangan pokok bernilai ekonomi tinggi. Harapan saya yang panen itu secara teknis nanti bisa kita hitung, sehingga stok itu selalu ada, bisa diatur,” terang Sultan, Rabu (25/10/2023).
Sultan juga meminta agar TPID DIY dan TPID kabupaten/kota se-DIY harus bersinergi, berdialog bersama para petani terkait rencana pengaturan pola tanam. Demikian pula dengan mengubah mindset masyarakat sebagai bagian penyedia pangan, bukan hanya sebagai masyarakat agraris yang bertani untuk memenuhi kebutuhan stok pangan seperti zaman dahulu.
Dengan pengaturan pola tanam pangan yang optimal akan membuat inflasi bisa dikendalikan. Pada tahun ini Pemda DIY berhasil menurunkan angka inflasi pada bulan September 2023 menjadi 3,30 persen YoY. Angka tersebut turun drastis dari angka 6,81% YoY pada September 2022. Namun begitu, potensi kenaikan inflasi bisa terjadi akhir tahun nanti lantaran permintaan tinggi, keterbatasan pasokan bahan pangan akibat El Nino dan kenaikan harga pangan dunia.
Sekretaris Daerah DIY Beny Suharsono menyebutkan, TPID DIY melakukan beberapa inisiatif dalam kerangka 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Komunikasi Efektif). Inisiatif tersebut seperti Operasi Pasar, Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP), dan Gerakan Pangan Murah untuk di sisi hilir.
"Pelaksanaan tersebut tentunya melibatkan BUMN dan swasta yang ditujukan sebagai upaya stabilisasi harga dan pasokan hingga ke tingkat masyarakat serta untuk menahan dan menjaga dinamika harga yang berkembang," katanya.
BACA JUGA : Gerakan Pangan Murah BUMD Jateng Peduli Inflasi, Subsidi dari Pemprov Jateng
Optimalisasi Kios Segoro Amarto yang ditujukan sebagai penyeimbang harga dan pasokan di pasar juga dilakukan. Kios Segoro Amarto diharapkan mendukung stabilisasi harga di pasar terutama para pedagang agar tidak menjual komoditas dengan harga terlalu tinggi. Sementara di sisi hulu, ada pendampingan dan fasilitasi petani untuk peningkatan produksi.
“Langkah-langkah tersebut di atas dilakukan TPID DIY dalam rangka menjaga stabilitas inflasi di daerah. Inflasi yang stabil yang terkendali tentunya juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian di DIY,” ucap Beny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pasar motor listrik di Jogja terus tumbuh. Indomobil eMotor menyebut Sleman menjadi pasar terbesar dengan penjualan menjanjikan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.