Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Hamparan sawah di Bangunjiwo, Kasihan, tidak ditanami apapun karena tidak mendapatkan air selama kemarau, Kamis (26/10/2023)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, BANTUL—Hingga akhir Oktober ini, belum juga ada hujan di Kabupaten Bantul. Hal ini berimbas pada mundurnya penanaman padi di sejumlah wilayah dan pengurangan luas panen tahun ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo menjelaskan dalam kondisi normal, biasanya para petani sudah mulai menanam padi pada Oktober. “Kalau jadwalnya pada Oktober mulai tanam padi,” ujarnya, Kamis (26/10/2023).
Namun tahun ini, hingga akhir Oktober beberapa wilayah di Bantul belum mulai menanam padi. “Karena kok belum ada hujan, sementara dianggurkan, menunggu hujan. Ada perkiraan hujan di awal November. Ini masa peralihan mau musim tanam, tapi menunggu air hujan,” katanya.
Beberapa wilayah yang mundur masa tanamnya di antaranya Bangunjiwo, Dlingo, sebagian Imogiri, sebagian Pleret dan sebagian Piyungan. “Terutama yang sawah tadah hujan, biasanya di daerah-daerah perbukitan,” ujar dia.
BACA JUGA: Perpanjang Status Tanggap Darurat Kekeringan, Pemkab Kulonprogo Siapkan 270 Tangki Air
Di lahan-lahan tadah hujan tersebut, saat ini irigasinya tidak mengeluarkan cukup air sehingga tidak memenuhi kebutuhan untuk penanaman padi. Meski demikian, sebagian wilayah lainnya saat ini sudah ada yang mulai menanam padi. “Sudah ada yang mulai menanam sebagian. Itu yang ada sumber airnya pakai pompa,” kata dia.
Mundurnya penanaman padi di sebagian wilayah pada tahun ini menurutnya akan berakibat berkurangnya luas panen tahunan Bantul. “Nanti di tahun ini akan terjadi penurunan luas panen. Tetapi pada 2024 terjadi peningkatan luas panen. Karena tanamnya tahun ini ada yang mundur,” ujarnya.
Lurah Bangunjiwo, Parjo, mengatakan saat ini di wilayah Bangunjiwo ada sekitar 100 hektare lahan yang tidak ditanami baik padi maupun palawija karena irigasi yang mengering. “Ini ada 100 hektare, seluas itu kering semua. Tidak ditanami,” ungkapnya.
Lahan pertanian di Bangunjiwo kata dia, tidak memiliki hulu atau irigasi utama sehingga ketika kemarau rentan kekeringan. “Irigasi utamanya ga ada, seperti hulu dari selokan mataram ga ada. Jadi patusan atau tadah hujan,” kata dia.
Ia juga mengakui pada kondisi normal, Oktober biasanya para petani sudah mulai menanam padi. “Harusnya sekarang sudah memasuki musim tanam, tapi belum bisa. Nanti nunggu setelah hujan, baru bisa ditanami,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Profil Destry Damayanti, Gubernur BI 2026-2031, mulai pendidikan, karier sebagai ekonom hingga perjalanan di Bank Indonesia.
Kementerian Koperasi mengusulkan tambahan anggaran Rp4,53 triliun untuk 2027, terutama untuk SDM, usaha, digitalisasi, dan pengawasan.
Ibu di Semin Gunungkidul membuang bayi yang baru dilahirkannya karena takut tak mampu menafkahi. Polisi menemukan petunjuk dari ceceran darah.
Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada 21 penerbangan dari dan menuju Bandara Kualanamu pada 31 Agustus-1 September 2026.
Jalur pendakian Gunung Kerinci ditutup sementara mulai 1 September 2026 untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.