Si SIGAP DPUPKP Kota Jogja Bikin Arsip Proyek Lebih Mudah Ditelusuri
DPUPKP Kota Jogja mengembangkan Si SIGAP untuk digitalisasi arsip proyek agar lebih mudah ditelusuri, dipantau, dan digunakan.
Ilustrasi/Pixabay
Harianjogja.com, BANTUL–Dalam beberapa bulan belakangan, kasus Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Bantul cenderung mengalami penurunan. Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul meminta agar masyarakat mewaspadai penyakit Demam Berdarah (DBD) selama awal musim penghujan.
Kepala Dinkes Kabupaten Bantul, Agus Tri Widyantara menuturkan bahwa dalam beberapa bulan belakangan terjadi penurunan kasus DBD di Kabupaten Bantul.
“Selama musim kemarau ini mengalami penurunan kasus DBD. Ini per bulan Oktober [2023] ada 4 kasus di Kabupaten Bantul. Di tahun 2023 tidak ada kasus meninggal untuk DBD,” ujarnya, Minggu (5/11/2023).
Sementara berdasarkan catatan Dinkes Kabupaten Bantul ada 4 kasus DBD pada September 2023, 11 kasus DBD pada Agustus 2023, dan ada 8 kasus DBD pada Juli 2023.
Meskipun jumlah kasus DBD cenderung menurun, Agus tetap meminta agar masyarakat tetap menerapkan berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya kasus DBD. Beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat antara lain melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Upaya PSN dapat dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang berbagai barang yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
“Dengan kita menjaga jangan sampai ada air yang menggenang entah itu bekas perabotan, kaleng bekas, ban bekas atau juga bekas pepohonan yang ditebang, ada lubang yang dapat terjadi genangan air, [diimbau] dibersihkan,” katanya.
Dia pun berharap upaya dari seluruh masyarakat untuk dapat mengantisipasi terjadinya DBD.
“Untuk menghadapi musim hujan, kami berharap masyarakat tetap bisa menjaga lingkungannya masing-masing. Jangan sampai nanti ada tempat yang memungkinkan untuk berkembangnya nyamuk,” tuturnya.
BACA JUGA: Wolbachia Sukses, Kasus Demam Berdarah di Bantul Turun Drastis
Dengan begitu, dia berharap tidak terjadi lonjakan kasus DBD menjelang akhir tahun 2023.
“PSN digencarkan, meski kasus DBD di Kabupaten Bantul menurun, masyarakat jangan sampai lengah, jangan sampai nanti ada lonjakan kasus DBD lagi,” imbuhnya.
Selama ini menurut Agus, Kabupaten Bantul telah menerapkan program Wolbachia wis Masuk Bantul (Wow Mantul) sejak tahun 2022 untuk dapat menurunkan kasus DBD. Dalam program tersebut, dilakukan penyebaran bibit nyamuk yang telah terkontaminasi bakteri Wolbachia. Kemudian ketika nyamuk tersebut kawin dengan nyamuk biasa, maka bakteri Wolbachia akan diturunkan ke generasi berikutnya. Jika nyamuk tersebut menggigit pengidap virus demam berdarah, maka virus tersebut akan tersebut akan mati oleh bakteri Wolbachia. Sehingga nyamuk tersebut tidak dapat menyebarkan virus demam berdarah ke tubuh manusia.
“Dengan program tersebut sudah cukup efektif mengurangi kasus DBD di Kabupaten Bantul,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPUPKP Kota Jogja mengembangkan Si SIGAP untuk digitalisasi arsip proyek agar lebih mudah ditelusuri, dipantau, dan digunakan.
BPPTKG mencatat 47 guguran lava dan ratusan gempa Gunung Merapi sepekan. Status tetap Siaga, warga diminta waspada lahar dan APG.
Iran mengajukan tujuh syarat kepada AS untuk membuka Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pasokan energi ke pasar global.
Pertamina mengungkap harga Pertamax berpotensi tembus Rp20.000 per liter jika harga minyak dunia tak turun ke US$60-US$70.
Banyumas mengusulkan Rp7 miliar untuk memperbaiki lintasan Stadion Satria dengan material tartan demi mendukung pembinaan atlet.
Basarnas mengerahkan helikopter untuk mencari Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa. Sebanyak 103 penumpang telah dievakuasi.