Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Warga Diminta Tetap Waspadai Awan Panas

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Minggu, 13 September 2026 13:17 WIB
Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Warga Diminta Tetap Waspadai Awan Panas

Foto pengamatan visual BPPTKG menunjukkan guguran awan panas di Gunung Merapi, beberapa waktu lalu. - ist/BPPTKG

Harianjogja.com, SLEMAN—Aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi sepanjang periode 4 hingga 10 September 2026. BPPTKG mencatat puluhan guguran lava dan ratusan gempa vulkanik selama sepekan, dengan status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada tingkat SIAGA.

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menjelaskan selama periode pengamatan tersebut teramati 18 kali guguran lava ke arah hulu Kali Krasak. Jarak luncur maksimum guguran lava itu mencapai 1.800 meter.

Selain itu, guguran lava juga tercatat sebanyak 29 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.

Aktivitas vulkanik tersebut menjadi bagian dari kondisi erupsi efusif Gunung Merapi yang masih berlangsung. Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi sehingga statusnya tetap ditetapkan pada tingkat SIAGA.

Volume Kubah Barat Daya Bertambah

BPPTKG juga mencatat adanya perubahan volume kubah lava Gunung Merapi. Berdasarkan analisis foto udara, volume Kubah Barat Daya bertambah sekitar 10.300 meter kubik sehingga menjadi 4.173.600 meter kubik.

"Sedangkan untuk pemantauan Kubah Tengah terhalang asap kawah sehingga volumenya dianggap masih sama dengan volume saat periode pengukuran sebelumnya, yaitu sebesar 2.369.600 meter kubik," terang Agus dikonfirmasi pada Minggu (13/9/2026).

Dari sisi kegempaan, aktivitas Gunung Merapi juga masih menunjukkan kondisi yang cukup tinggi. Pada periode pengamatan tersebut, jaringan seismik yang terpasang di Gunung Merapi dan sekitarnya merekam 37 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB).

Selain itu, tercatat 463 gempa Fase Banyak (MP), 579 gempa Guguran (RF), dan 10 gempa Tektonik (TT).

Agus menjelaskan data pemantauan menunjukkan suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Warga Diminta Waspadai Lahar dan Awan Panas

Dengan aktivitas vulkanik yang masih tinggi, potensi bahaya Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sejumlah sektor.

Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer. Sementara itu, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga jarak maksimal 7 kilometer.

Pada sektor tenggara, area potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.

Sementara itu, apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Merujuk aktivitas serta potensi bahaya tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah yang telah ditetapkan sebagai kawasan potensi bahaya.

"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," tandasnya.

Imbauan tersebut terutama perlu diperhatikan ketika hujan deras terjadi di sekitar Gunung Merapi. Kondisi hujan dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lahar dan awan panas guguran di sejumlah alur sungai yang berhulu di kawasan puncak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online