Pakar UGM Sebut Erupsi Sinabung Sulit Diprediksi, Ini Sebabnya

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Rabu, 09 September 2026 22:57 WIB
Pakar UGM Sebut Erupsi Sinabung Sulit Diprediksi, Ini Sebabnya

Gunung Sinabung/Antara

Harianjogja.com, SLEMAN—Letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo yang menghasilkan kolom abu setinggi 3.500 meter menjadi perhatian kalangan akademisi. Pakar vulkanologi dari Fakultas Geografi Lingkungan UGM, Indranova Suhendro, menilai aktivitas tersebut kemungkinan besar merupakan erupsi freatik yang dikenal memiliki karakter sulit diprediksi.

Menurut Indranova, salah satu ciri utama erupsi freatik adalah kemunculannya yang dapat berlangsung secara tiba-tiba tanpa didahului peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik yang mencolok. Kondisi inilah yang membedakannya dengan sejumlah tipe erupsi gunung api lainnya.

Ia menjelaskan bahwa mekanisme erupsi gunung api secara umum terbagi dalam beberapa jenis. Pada erupsi magmatik, magma bergerak menuju permukaan dan meretakkan batuan di dalam tubuh gunung api. Proses tersebut menghasilkan gempa vulkanik yang titik hiposentrumnya cenderung semakin dangkal ketika waktu erupsi mendekat.

Peningkatan jumlah gempa dan perubahan kedalaman sumber gempa biasanya menjadi salah satu indikator yang dapat diamati sebelum terjadinya erupsi magmatik.

Berbeda dengan mekanisme tersebut, erupsi freatomagmatik terjadi ketika magma yang bergerak ke atas bersentuhan langsung dengan air di dalam sistem gunung api. Interaksi antara magma dan air memicu ledakan yang menghasilkan material vulkanik ke permukaan.

Diduga Termasuk Erupsi Freatik

Indranova menjelaskan bahwa karakter aktivitas Gunung Sinabung kali ini lebih dekat dengan erupsi freatik.

Pada jenis erupsi tersebut, magma tidak harus bergerak naik hingga ke permukaan. Panas dari magma cukup ditransfer secara konduktif ke air tanah yang berada di dalam tubuh gunung api.

Ketika suhu air meningkat hingga mendidih, tekanan akan terus bertambah hingga akhirnya memicu ledakan yang menghasilkan erupsi.

"Kemungkinan besar erupsi Gunung Sinabung termasuk dalam kategori erupsi freatik. Di sini tidak ada magma yang naik. Air tanahnya hanya dipanaskan, kemudian mendidih. Nanti tiba-tiba bisa meledak dan akhirnya menjadi erupsi yang kita sebut sebagai freatik," terang Indranova pada Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, mekanisme tersebut menjadi alasan mengapa erupsi freatik sulit dideteksi sejak dini.

Getaran yang muncul akibat proses pendidihan air tanah sebenarnya tetap terjadi. Namun energi yang dihasilkan relatif kecil sehingga sering kali berada di bawah ambang deteksi peralatan pemantauan kegempaan.

"Untuk sementara, kita tidak punya tanda peringatannya. Jika airnya sudah mendidih, maka ia akan meledak dan menghasilkan erupsi freatik," jelasnya.

Abu Vulkanik Lebih Mudah Menyebar

Selain kemunculannya yang mendadak, karakter lain yang diamati dari letusan Gunung Sinabung adalah dominasi material abu vulkanik berukuran halus.

Indranova menilai kondisi tersebut berbeda dengan erupsi magmatik yang umumnya menghasilkan material berukuran lebih kasar, seperti kerikil vulkanik yang banyak mengendap di sekitar pusat erupsi.

Material halus memiliki kemampuan menyebar lebih jauh karena mudah terbawa angin.

"Kolom abu Sinabung yang dihasilkan mencapai sekitar tiga kilometer, dan materialnya yang tampak sangat halus. Dengan material halus tersebut membuat abu lebih mudah terbawa oleh angin dan menyebar ke wilayah yang lebih luas," terang Indranova.

Menurut dia, waktu terjadinya erupsi juga turut memengaruhi arah persebaran abu vulkanik.

Saat ini Indonesia masih berada pada periode musim kemarau. Dalam kondisi tersebut arah angin dominan bergerak ke timur sehingga kawasan yang berada di sisi timur Gunung Sinabung memiliki potensi lebih besar terdampak abu vulkanik.

Wilayah di sekitar Berastagi disebut menjadi salah satu daerah yang perlu memperhatikan perkembangan sebaran abu dari aktivitas Gunung Sinabung.

"Karena kita sedang di musim kemarau, maka anginnya akan cenderung ke arah timur. Jadi, daerah-daerah yang berada di timur seperti Berastagi akan cenderung lebih rentan terkena abu vulkanik daripada daerah lainnya," jelasnya.

Warga Diminta Ikuti Informasi PVMBG

Di tengah aktivitas Gunung Sinabung, Indranova mengingatkan pentingnya masyarakat mengikuti informasi resmi yang diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Menurut dia, lembaga tersebut memiliki kewenangan dalam menetapkan status aktivitas gunung api, menyusun peta kawasan rawan bencana, hingga menentukan zona bahaya yang harus dipatuhi masyarakat.

Informasi resmi dari PVMBG menjadi acuan utama dalam mengambil keputusan ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

"Selalu patuhi aturan dari PVMBG. Mereka yang berwenang untuk memberi kebijakan terkait zona bahaya dan semacamnya. Jadi, pantau terus berita dari PVMBG," tegasnya.

Selain pemantauan aktivitas gunung api, Indranova juga menilai edukasi kebencanaan perlu diperkuat melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat.

Menurut dia, pemahaman yang baik mengenai karakter gunung api dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi risiko erupsi dan mengurangi kepanikan saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

“Pemerintah juga harus lebih bisa menjembatani akademisi dengan masyarakat. Edukasi oleh akademisi dan dibantu pemerintah diharapkan bisa lebih masif lagi sehingga masyarakat semakin teredukasi dan lebih siap serta tidak panik kalau nanti ada erupsi lagi," tukasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online