Kebakaran di DIY Melonjak Saat Kemarau, Polda Intensifkan Patroli Titik Api
Kasus kebakaran di DIY melonjak saat kemarau 2026. Polda DIY memperketat patroli titik api dan mengimbau warga tidak membuka lahan dengan membakar.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna saat ditemui di Gedung Pusat UGM pada Rabu (2/9/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) diduga menjadi korban kekerasan saat mengikuti aksi demonstrasi di Simpang Gramedia Sudirman, Jogja. Mereka mengalami sejumlah luka, mulai dari lebam, memar, luka robek hingga trauma dan sesak napas, sehingga sempat mendapat perawatan di RS Panti Rapih.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, mengatakan terdapat enam mahasiswa yang diduga menjadi korban kekerasan dalam aksi tersebut. Lima mahasiswa berasal dari UGM, sedangkan satu lainnya merupakan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Keenam mahasiswa tersebut sempat menjalani perawatan di RS Panti Rapih. Seluruhnya kemudian diperbolehkan pulang setelah lewat tengah malam dan kembali ke rumah masing-masing.
"Ada enam mahasiswa, lima mahasiswa dari UGM dan satu mahasiswa dari UNY yang kemarin akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah jam setengah satu [malam] sudah pulang dan kembali ke rumah ya," kata Hempri di Gedung Pusat UGM pada Rabu (2/9/2026).
Hempri menjelaskan kondisi luka yang dialami mahasiswa UGM berbeda-beda. Dua mahasiswa mengalami trauma dan sesak napas setelah insiden tersebut.
Sementara itu, seorang mahasiswa mengalami luka robek pada dahi dan harus mendapat jahitan. Mahasiswa lainnya mengalami luka robek di bagian bibir, sedangkan satu mahasiswa mengalami luka memar pada pelipis, perut, dan kepala belakang.
Mahasiswa UNY yang turut menjalani perawatan juga mengalami luka memar pada bagian pelipis.
"Ada yang [luka] di mulut, kemudian ada yang di ini [dahi] dijahit sini yang paling agak parah. Terus yang di sini [pelipis] kena hantaman," terangnya.
Menurut Hempri, salah satu mahasiswa mengalami luka pada dahi hingga mengeluarkan darah. Luka tersebut kemudian mendapat penanganan medis berupa jahitan.
"Sempat, berdarah, robek di [dahi] sini, ada yang dijahit, di depan," tandas Hempri.
Keterangan mengenai kejadian tersebut diperoleh UGM dari para mahasiswa yang menjadi korban. Berdasarkan keterangan tersebut, insiden diduga terjadi ketika para mahasiswa sedang berjalan di tengah situasi aksi demonstrasi.
Para mahasiswa, menurut Hempri, mengaku tiba-tiba mendapat pukulan. "Ya mereka tiba-tiba jalan, terus ada yang mukul, ada yang ngantem [menghantam]," tuturnya.
UGM kemudian menekankan pentingnya perlindungan bagi mahasiswa dan masyarakat ketika terjadi kerumunan dalam aksi demonstrasi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sudjito, menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan.
"Jadi apapun itu tidak boleh ada kekerasan. Atas nama kemanusiaan, atas nama demokrasi, atas nama institusi juga kekerasan tidak dibenarkan," tegasnya.
Arie meminta kepolisian menjalankan peran aktif untuk melindungi masyarakat dan mahasiswa, terutama ketika kondisi di lokasi demonstrasi padat dan berpotensi menimbulkan gesekan.
Menurut dia, upaya pencegahan diperlukan agar kekerasan tidak terjadi. Arie juga menyoroti agar praktik yang disebutnya sebagai premanisme politik tidak muncul dalam situasi demonstrasi.
"Bahwa situasi crowded dan sebagainya saya berharap kepolisian bisa mengambil perannya untuk melindungi masyarakat, melindungi mahasiswa. Jangan sampai terjadi kekerasan. Saya tidak ingin juga premanisme politik terjadi," tandas Arie.
Dosen sosiologi tersebut juga mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga Indonesia dari berbagai praktik kekerasan. Ia menilai penyampaian aspirasi oleh mahasiswa merupakan bagian dari sikap kritis yang perlu dihormati.
"Kalau mahasiswa itu menyampaikan aspirasi ya didengarkan. Itu adalah bagian dari sikap kritis," tuturnya.
Setelah seluruh korban diperbolehkan pulang dari RS Panti Rapih, UGM memastikan mahasiswa yang terdampak tetap mendapat perhatian. Kampus juga menegaskan pentingnya ruang demokrasi yang memungkinkan mahasiswa menyampaikan aspirasi tanpa dibayangi tindakan kekerasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kebakaran di DIY melonjak saat kemarau 2026. Polda DIY memperketat patroli titik api dan mengimbau warga tidak membuka lahan dengan membakar.
KY merespons desakan moratorium seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 serta menegaskan mandat konstitusional tetap dijalankan.
Kunjungan wisatawan ke Kaliurang mencapai 417.291 orang hingga Agustus 2026, dengan jumlah tertinggi tercatat pada Mei.
Kemenkes menjelaskan akses SATUSEHAT RME saat darurat, persetujuan pasien, perlindungan data, hingga manfaat integrasi rekam medis.
Kemenaker menyiapkan pemagangan dan pelatihan vokasi untuk mendukung target 3,49 juta lapangan kerja baru pada 2027.
Lima mahasiswa UGM diduga menjadi korban kekerasan saat aksi demonstrasi di Jogja dan sempat dirawat di RS Panti Rapih.