Terungkap! Istri Gorok Leher Suami di Bantul, Dipicu Chat Selingkuh
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Pembeli memilih cabai rawit merah di Pasar Beringharjo, Jogja, Sabtu (4/11/2023). – Harian Jogja/Alfi Annisa Karin\r\n\r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) DIY memprediksi harga komoditas cabai dan sayuran masih bertahan tinggi sampai akhir tahun nanti. Intervensi pusat dengan mendatangkan stok dari daerah yang surplus sangat diharapkan guna menjaga gejolak harga di wilayah setempat.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian DIY Syam Arjayanti mengatakan, per pekan ini harga tertinggi cabai mencapai Rp74.250 per kilogram untuk jenis rawit merah. Menurutnya harga cabai memang selalu fluktuatif berdasarkan musim dengan rentang harga di kisaran Rp40.000-Rp50.000 per kilogram.
"Sekarang kan tidak ada air dan di beberapa daerah kekurangan air belum ada hujan, sehingga pasokan berkurang sementara kebutuhan naik. Banyak hajatan kayak gitu kan meningkat juga makanya harga cabai mahal. Ada juga yang terserang penyakit di beberapa wilayah, itu penyebabnya," kata Syam, Jumat (10/11/2023).
Menurutnya, Disperindag DIY cukup dilema dengan keadaan tingginya harga cabai. Sebab jika ingin mendatangkan stok dari luar daerah harus dengan jumlah yang besar. Sementara pedagang di wilayah setempat hanya butuh dalam jumlah kecil. Apalagi komoditas cabai tidak bisa bertahan dalam durasi lama, sehingga cukup sulit jika menempuh kebijakan ini.
"Jogja sendiri sebenarnya kita butuh ga banyak ya, dari produksi sebenarnya cukup cuma cabai kita kan banyak juga yang keluar. Dari Bantul dan Kulonprogo itu dilelang dan keluar ke Jakarta dan Bandung, itu banyak ke sana. Karena kan disukai juga cabai kita kan bagus sehingga mereka suka," katanya.
BACA JUGA: Harga Cabai Mahal, Warga Jogja Diminta Menanam di Rumah
Syam menambahkan, pihaknya masih berupaya mendatangkan stok cabai tambahan dari wilayah setempat saja untuk menekan tingginya harga komoditas itu. Gapoktan dan kelompok tani akan digandeng agar berkoordinasi dengan distributor sehingga gejolak harga di pasaran bisa diredam sampai akhir tahun nanti.
"Kita masih berupaya juga untuk datangkan cabai dari DIY dulu, dengan Gapoktan atau kelompok tani dan ada distributor yang mau. Kita kan ga bisa kulakan sendiri, kita hubungkan dengan distributor untuk cari komoditas yang nantinya biaya transportasinya akan kita subsidi," kata dia.
Sampai sekarang program subsidi bahan pokok masih dijalankan untuk biaya transportasi sebesar Rp2.000 per kilogram. Pilihan untuk menggelar pasar murah atau operasi pasar dinilainya belum memungkinkan lantaran butuh jumlah cabai yang sangat banyak. Pihaknya berharap dengan strategi demikian harga bahan pokok bisa stabil sampai akhir tahun.
"Akhir tahun kalau beras semoga ga naik lagi ya, karena sudah ada intervensi. Harga yang risiko ini seperti cabai dan sayuran, itu di akhir tahun mungkin masih tinggi juga, semoga ada aksi dari Bapanas dengan mendatangkan dari daerah yang surplus dan sampai ke Jogja semoga itu bisa meredam gejolak harga," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.