Segera Dibuka, Kelok 23 Jadi Harapan Baru Ekonomi Sisi Barat Gunungkidul
Kelok 23 di Girijati, Gunungkidul, dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi setelah menghubungkan JJLS dengan Bantul.
Vaksinasi anak - Ilustrasi/Freepik
Hariangjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul berencana melaksanakan vaksinasi pencegahan penyakit Japanense Ecephalitis (JE) di 2024. Meski demikian, hingga sekarang belum ada temuan kasus berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Culex.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan vaksinasi JE merupakan program dari Pemerintah Pusat. Rencananya pemberian vaksin dilaksanakan di tahun depan. “Di 2024 memang ada rencana untuk pemberian imunisasi JE,” katanya, Selasa (21/11/2023).
Meski demikian, Dewi belum bisa memastikan kapan waktu pelaksanaan imunisasi. Ia berdalih keputusan masih menunggu kebijakan dari Kementerian Kesehatan.
Menurut dia, informasi awal baru sebatas rencana pelaksanaan. Selain itu, vaksinasi akan menyasar ke anak yang berusia 15 tahun ke bawah.
“Untuk target yang divaksin juga masih menunggu informasi lanjutan. Yang jelas, sudah mulai dipersiapkan dari sekarang sehingga saat mulai digulirkan bisa langsung dijalankan,” kata Dewi.
BACA JUGA: Pemkab Bantul Bakal Pakai Teknologi Taiwan untuk Pengelolaan Sampah, Ini Detailnya
Disinggung mengenai penyebaran penyakit JE, Dewi mengakui hingga sekarang belum ada temuan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Culex ini. Meski demikian, ia memastikan upaya pencegahan terus dilakukan. “Salah satunya melaksanakan program imunisasi yang digulirkan oleh Pemerintah Pusat,” katanya.
Selain itu, pencegahan juga dilakukan dengan intens memberikan sosialisasi ke Masyarakat. Adapun caranya bisa melakukan penyuluhan langsung ke Masyarakat. Namun ada juga pemasangan flayer tentang bahaya dan pencegahan penyakit JE.
“Kami sudah menyasar ke teman-teman di fasilitas Kesehatan [Faskes] tentang aturan dan informasi penyakit JE. Harapannya bisa diteruskan ke Masyarakat melalui berbagai penyuluhan Kesehatan,” katanya.
Ia mengungkapkan, upaya pencegahan juga membutuhkan partisipasi dari Masyarakat agar hasilnya bisa dioptimalkan. Penyebaran penyakit JE tidak jauh berbeda dengan DBD karena sama-sama disebarkan melalui nyamuk, meski jenisnya berbeda.
Oleh karenanya, sambung Dewi, Masyarakat bisa terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, juga makan-makanan bergizi dan rutin berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit. “Kalau tubuh fit, maka potensi terserang penyakit akan berkurang,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S berharap kepada pemkab untuk benar-benar mewaspadai penyebaran penyakit JE yang disebabkan oleh nyamuk culex. Meski belum ada laporan kasus, kesiapsiagaan dan upaya pencegahan terus disosialisasikan ke Masyarakat.
“Tidak ada kasus bukan berarti aman dari potensi persebarannya. Jadi, Masyarakat harus terus diedukasi untuk bersama-sama melakukan pencegahan sehingga bisa terhindar dari penyakit ini,” kata Ery.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 di Girijati, Gunungkidul, dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi setelah menghubungkan JJLS dengan Bantul.
Operasi SAR pencarian 8 wartawan dan 3 kru kapal di Selat Sunda diperpanjang hingga 17 September 2026 setelah tujuh hari belum membuahkan hasil.
Sultan berharap Kelok 23 tak hanya menjadi jalur alternatif, tetapi juga membuat wisatawan memperpanjang lama tinggal di DIY.
KPK menyita uang tunai rupiah dan valas senilai ratusan miliar dalam sekitar 20 koper terkait OTT dugaan korupsi HGB di ATR/BPN.
Dimitar Mitkov sudah mencetak empat gol dalam dua laga. Madura United kini bersiap menghadapi PSIM Jogja di pekan ketiga.
Cek isi emergency bag keluarga untuk menghadapi kondisi darurat, mulai dari makanan, obat, dokumen hingga kebutuhan bayi dan anak.