Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Kondisi terkini jembatan Bobung yang berada di jalan alternatif Gunungkidul-Sleman yang sudah selesai pembangunan dan tinggal pengaspalan. Foto diambil Jumat (24/11/2023) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pembangunan jalan alternatif Gunungkidul-Sleman di ruas Bobung-Tawang di Kapanewon Patuk sudah mencapai 92,2%. Ditargetkan jalan alternatif tersebut selesai di akhir tahun ini.
Kepala Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Peruamah dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY, Kwaryantini Ampeyanti Putri mengatakan, jalur alternatif Gunungkidul-Sleman masih ada dua ruas yang dikerjakan. Ruas ini meliputi Bobung-Kepil dan Kepil-Kedungkandang. “Ditarget selesai akhir tahun ini,” katanya, Jumat (24/11/2023).
Total pembangunan dua ruas ini menelan biaya sekitar Rp99,2 miliar. Kwaryantini terus memantau proses pengerjaan dan perkembangannya sudah mencapai 92,2%. “Masih ada beberapa pengerjaan seperti pengaspalan jembatan, perapian bahu jalan dan talut. Kami optimistis bisa selesai tepat waktu,” katanya.
BACA JUGA: Perda Kawasan Tanpa Roko di Sleman Gagal Disahkan Tahun Ini, DPRD Ungkap Penyebabnya
Salah seorang warga di Kalurahan Putat, Patuk, Sularto mengatakan, setiap hari melihat proses pengerjaan jalur alternatif Gunungkidul-Sleman yang dibangun di wilayahnya. Selain membangun jalan, juga ada pembuatan dua jembatan dalam proyek ini.
Menurut dia, pengerjaan berjalan bagus karena ruas jalan sudah diaspal dan tinggal beberapa meter yang belum digarap. Adapun dua jembatan yang dibangun, yakni Bobung di Kalurahan Putat dan Kedungkandang di Kalurahan Nglanggeran secara konstruksi sudah tersambung. “Kelihatannya tinggal pengaspalan di bagian jembatan,” katanya kepada wartawan.
Ia mengakui meski belum diaspal, untuk kendaraan roda dua bisa melintasi jembatan baru ini. “Memang masih ditutup, tapi dapat dilalui pesepada motor. Tentunya kami senang dengan adanya jalan baru ini karena untuk menuju Sleman jadi lebih dekat dan tidak terjadi kemacetan,” ungkapnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Lurah Nglanggeran, Widada. Menurut dia, pembangunan jalan tidak hanya mempermudah akses antara Gunungkidul dengan Sleman, tapi jalur baru ini juga akan memberikan dampak terhadap pengembangan wisata di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran.
BACA JUGA: Istana Siapkan Keppres Pemberhentian Firli Bahuri
Jalan yang dibangun dinilai lebih representative karena lebih lebar dibandingkan jalan lama. Di sisi lain, jalur yang dilewati juga lebih datar.
Kondisi ini berbeda dengan jalur lama yang memiliki tanjakan yang ekstrem sehingga pengendara khususnya yang masuk dari sisi selatan ke Gunung Api Purba Nglanggeran harus berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan.
“Saya yakin bus besar bisa masuk. Apalagi sekarang juga dibangun tempat parkir. Jadi, jalan baru ini sangat memudahkan pengunjung yang akan berwisata ke kawasan Nglanggeran,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Kementan menargetkan tambahan 600.000 sapi perah hingga 2029 untuk memperkuat produksi susu lokal dan menekan ketergantungan impor.
Partai Gema Bangsa bersilaturahmi ke PP Muhammadiyah di Jogja membahas desentralisasi politik dan target Pemilu 2029.
Dugaan politik uang muncul di Pilur Panggungharjo. Calon lurah melapor, sementara panitia mengingatkan fakta integritas dan mekanisme penanganan.
BMKG memprakirakan sejumlah wilayah berpotensi hujan pada 2–5 Oktober 2026 meski kemarau panjang masih melanda banyak daerah.
IKI September 2026 berada di level 51,93 atau turun 0,37 poin. Industri masih ekspansi, tetapi biaya logistik dan BBM menekan laju.