ISI Jogja Gelar JMMK, Bahas Masa Depan Seni di Era AI
Pameran JMMK #18 di Pendhapa Art Space, Bantul, menampilkan 161 karya seni dari 12 negara dan mengangkat perkembangan AI dalam dunia seni.
Tanah Kas Desa - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kejati DIY mengungkapkan salah satu kendala yang dihadapi instansinya dalam menyelesaikan persoalan kasus tanah kas desa (TKD) di wilayah setempat. Minimnya personel membuat Kejati DIY mengumumkan tersangka dengan cara maraton, tidak langsung sekaligus secara serentak.
Kepala Kejati DIY, Ponco Hartanto mengatakan keterbatasan jumlah penyidik menyebabkan penetapan tersangka kasus mafia tanah TKD di wilayah setempat tak bisa dilakukan secara serempak.
"Kami kan juga ada kegiatan-kegiatan jadi tidak bisa serempak, terkait dengan penyidik kami juga terbatas. Tetapi semua on the track, semua masih dalam proses," kata Ponco, Minggu (10/12/2023).
Menurutnya, hal tersebut dibuktikan dengan ditetapkannya lagi seorang tersangka berinisial ANS selaku jagabaya di Kalurahan Caturtunggal dalam lanjutan penyalahgunaan TKD di kalurahan setempat.
Diketahui jagabaya merupakan jabatan Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan di tingkat kalurahan. "Buktinya ada lagi tersangka. Selain itu kan kantor sedang ada hajat besar rekrutmen CPNS," imbuh Ponco.
Dirinya memastikan bahwa penanganan kasus-kasus hukum terutama mafia tanah TKD ID tetap dalam proses. "Maguwoharjo sudah. Sedangkan Candibinangun menunggu keterangan ahli, sudah berproses. Kami perkuat dengan ahli," kata dia.
Jika keterangan ahli sudah didapat dan mendukung alat bukti yang ada, pihaknya segera memproses kasus mafia tanah di Candibinangun.
Sedangkan untuk kasus di Caturtunggal, Ponco menyebut penetapan tersangka dilakukan secara bertahap adalah strategi dari Kejati DIY. "Ya karena itu strategi penyidikan seperti itu. Setelah di pengadilan dinyatakan ada yang terbukti di sana ada pengembangan dari pembuktian, ditemukan bukti baru, nah dari bukti baru akan ditemukan tersangka baru. Di pengadilan ditemukan bukti, untuk mengangkat kasus lain.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pameran JMMK #18 di Pendhapa Art Space, Bantul, menampilkan 161 karya seni dari 12 negara dan mengangkat perkembangan AI dalam dunia seni.
Kementan menyiapkan Rp300 miliar untuk benih jagung pakan pada 2026 dan tambahan Rp300 miliar pada 2027, dengan target tanam 300.000 hektare.
PSS Sleman kalah 1-2 dari Borneo FC setelah Stefan Ashkovski mendapat kartu merah. Pieter Huistra menilai insiden itu mengubah dinamika pertandingan.
Kelurahan Cokrodiningratan mengajak 60 KK mengolah sampah organik lewat budi daya manggot yang menghasilkan 50–70 kg setiap dua minggu.
DPRD DIY menyempurnakan Raperda Penanggulangan Bencana sesuai masukan Kemendagri untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan daerah.
Jogja Expo 2026 di JEC Bantul mencatat potensi perputaran ekonomi lebih dari Rp25 miliar dengan 121 tenant dan 5.382 peserta.