PEREKONOMIAN DAERAH: Budaya Jadi Keunikan Transformasi Ekonomi DIY
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Ilustrasi siswa sekolah./Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan (Disdik) Gunungkidul berencana melakukan regrouping satuan pendidikan jenjang sekolah dasar (SD). Regrouping tersebut setidaknya baru dapat dilakukan pada 2025.
Kepala Bidang Sekolah Dasar Disdik Gunungkidul, Hary Sulaksana mengatakan ketika pihaknya dan beberapa OPD terkait menggelar rapat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), ada masukan untuk melakukan regrouping 22 SD di Bumi Handayani.
“Kami berencana regrouping lagi. Di RPJPD 2025-2045 ada sekitar 22 SD yang akan di-regrouping. Tetapi itu kan baru masukan pada waktu rapat. Saya belum tahun keputusannya berapa. Jadi 22 sekolah itu akan bergabung dengan sekolah lain,” kata Hary ditemui di kantornya, Jumat (22/12/2023).
Hary menambahkan di Gunungkidul ada total 466 SD baik negeri maupun swasta. Khusus negeri ada sekitar 400 sekolah.
Dia mengaku regrouping tersebut dilatarbelakangi oleh efisiensi penyelenggaraan pendidikan sekolah dasar.
Dia pun tak menampik masih banyak gedung sekolah yang rusak. Apabila melihat dari sisi pendanaan, Hary mengaku tidak dapat mengkover semua sekolah. Dana Alokasi Umum (DAU) juga berkurang dibandingan beberapa tahun terakhir. “Harapannya juga ada peningkatan kualitas sekolah karena semakin berkurang sekolah yang harus didanai kan bisa lebih meningkat dari sisi sarpras dan kebutuhan guru,” katanya.
BACA JUGA: Regrouping Sekolah di Gunungkidul Terus Dilanjutkan
Tahun ini, kata dia, ada satu sekolah yang di-regrouping yaitu SD Negeri Ngentak di Padukuhan Ngentak, Candirejo, Semin. Lokasi SDN tersebut berada di tengah area persawahan yang jauh dari permukiman warga. Sarpras sekolah tersebut juga dianggap rusak dan belum memiliki chromebook.
SDN Ngentak tersebut hanya memiliki sekitar 15 pelajar. Mereka dipersilakan juga memilih sekolah sesuai dengan pilihan masing-masing.
Hary menambahkan, ada juga yang memilih sekolah di luar Gunungkidul. Pasalnya, Kapanewon Semin berada di daerah perbatasan dengan Klaten dan Sukoharjo. “Penggabungan sebenarnya juga menguntungkan karena kalau ada regrouping kan dari sisi pemenuhan kebutuhan dapat sesuai standar,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Daftar mobil listrik murah 2026 di Jogja mulai Rp100 jutaan, cocok untuk mobilitas harian dan hemat biaya BBM
Lima pendaki tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Maros. Satu orang meninggal dunia dan empat lainnya selamat.
Pemkab Sleman bekerja sama dengan 34 perguruan tinggi DIY untuk memperluas akses pendidikan melalui Beasiswa Sleman Pintar 2026.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp81.300 per kg berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia, Senin (25/5/2026)
Kemenkes mencatat 1.443 kasus pemasungan penderita skizofrenia hingga triwulan I 2026 dan mendorong penguatan layanan jiwa